here i share . here i cry . here i laugh . here i'm proud . here i'm shy . here i'm happy . here i'm sad . here i'm calm . here i'm shaking . here i am . myself . through ages . time after time
Pick one you like!
Showing posts with label culture. Show all posts
Showing posts with label culture. Show all posts
Tuesday, May 15, 2012
The Reason Why The Dutch Act The Way They Do
People with different nationalities can be defined by their traits. Those traits are determined by several factors, from cultural to historical, and philosophical to natural. Although it might sound stereotyping, but it is generally true, based on my experience having friends from different parts of the world. Let’s take a few examples here. The Germans, they are straightforward, adventurous, and cold. Japanese, they’re hardworking, strict, and innovative. What about the Dutch? Before I answer that, let me tell you my personal story about getting along with Dutch people. I remember the time when I was doing one semester abroad in a university in Australia, I had several Dutch friends. As personal, for sure they were different from each others. But as we see their similarities, we can pull out one line that they complain a lot, they do not want to miss any chance, they always ask why or how if there is anything wrong or does not meet their expectations. At first we may feel those things are quite annoying, because they even complain things about us! If we act like we don’t care, we could just say: ‘it’s not all about you, dude! Care a little!’, and leave them. But actually, I was curious why on earth Dutch people are basically like that.
And there was where I began my little ‘research’. I tried to guess what sort of reason could make them act the way they do. I indeed knew that back home, they are not very rich as in the size of the country, nor their natural resources such as mining, plantations, and some others. But as we all know, they are quite a developed country now. So I tried to combine those ideas and I found myself arrived to the point that in Holland, Dutch people live in such a small country with limited possibilities, so they have to always come up with anything to survive and to be able to keep up with other countries. That way they have become very critical about anything, because they have been raised and even educated not to stay silent if there is a problem or something which is not right. As we can see, they have invented some strategies to solve their problems: the dams for their below – sea – surface land, building cities over by the canals for transportation, controlling water, and defense reasons, polderlandschap mechanism for their infertile soils, etc.
In fact, their limited resources urge them to always be creative and proactive people. It is such an opposite towards the situation in Indonesia. We have a very big area of land and water, we have fertile soils, plentiful mining resources, and millions of human potential. We just never bother to use them wisely, to invent things to make us even richer, or to build up some strategies to preserve and maintain these resources we have, and these conditions, are exactly the reason why Indonesian people in general act lazy, reactive, and lack of innovations. We may dislike the Dutch somehow for invading our country for more than 350 years, but we cannot deny that, we need to learn from them for this matter.
Sunday, February 14, 2010
Week #2: Cultural Week!
Minggu kedua, 8 Februari 2010 – 14 Februari 2010
Sebelum aku certain minggu kedua ini, aku jelasin dulu sebenernya aku ini kok ngapain sih jauh2 ke Ukraina?? Jadi gini, ada sebuah organisasi pemuda Internasional, namanya AIESEC. AIESEC ini menurut sejarahnya, awalnya adalah sebuah organisasi para generasi muda yang ingin memperbaiki dunia pasca perang dunia, untuk mewujudkan persahabatan antar Negara-negara di dunia. Nah organisasi ini punya (salah satu) program namanya Exchange Program bagi para pemuda untuk menjalani internship—atau kerja magang, dan saya mengikuti program tersebut. Proyek yg saya kerjakan adalah sebuah proyek social working bertajuk World Without Borders, atau dalam bahasa Indonesia, Dunia Tanpa Batas. Sesuai dengan namanya, proyek ini bertujuan untuk ‘menerobos’ seluruh batas-batas atau kotak-kotak antar negara2 di dunia—secara pemikiran. Tugasku memberikan presentasi2 dan ‘kuliah’ untuk anak2 usia SMP-SMA, dalam bahasa Inggris—bahasa internasional, jadi secara tidak langsung, aku juga mengajarkan bahasa Inggris kepada mereka.
Sebenernya, dalam proyek ini, ada sekitar 6 orang, tapi entah kenapa, pada akhirnya hanya ada tiga orang. Dua dari Indonesia, dan satu dari China. Nah, si mas2 dari China ini baru dateng di minggu kedua. Dia dateng malem2 dari stasiun dijemput sama Eva dan pacarnya—Anthon. Ketemu si koko ngga bikin aku kaget atau excited yg berlebihan, kaya yg biasanya terjadi kalo aku ketemu orang asing lainnya, abis di Indo tuh aku bisa ketemu orang macam dia kayak tiap hari, apalagi rumahku deket Galaxy Mall x)
Hari semakin malam tapi kita semua masih pengen nerusin pesta, akhirnya kita pindah lokasi: flatku! Tapi ngga semua ikutan pindah, cuman Pasha Bunin, Ira, Lena, Marina, dan kedua Yuri. Di flat, Roy pun pamer gadget, dia nyetel iTouch nya pake portable speaker, dan kamar kita berubah jadi lantai dansa. Karena kebetulan yang muter lagu agak mellow, jadi kita pada dansa waltz. Meskipun aku suka banget itu waltz, tapi aku ngga pernah melakukannya sama orang yg bener ‘bisa’ dansa, dan Pasha—pasanganku, sepertinya orang itu, udah gitu ya namanya juga Pasha, dansanya klasik banget ala kerajaan hhahah..
Musik pun berubah jadi musik nge-beat yang ngga cocok buat waltz. Si Yuri narik aku dan kita bener2 nge-dance asli kaya di klub. Pasha jadi sama Lena, Roy ama Marina, dan Andin ama Ira—ini yg bikin ngakak, si mbak tinggi banget, kepala si Andin cuman nyampe ujung hidung si mbak.
Cape ngedance, kita istirahat duduk sambil ngobrol2. Tiba2 bel pintu bunyi. Ternyata ada temen2nya Marina mau ikutan gabung. Tapi—oh God, mereka udah pada mabuk gitu, masuk ke kamar, nyiumin semua cewe2, ketawa2 sambil ngga focus matanya. Eh, ngga lama ada bel bunyi lagi. Kata Ira, itu pasti tetangga yg protes soalnya kita udah ngelewatin jam rame. Seketika Pasha langsung bĂȘte dan ngomong-apaan-gitu-ngga-tau-ah pake bahasa rusia ke si mas2 mabuk.
Lima belas menit kemudian, semuanya pada pulang, termasuk para mabuk2. Kecuali Pasha, dia mau nginep sama kita.
***
Besoknya, hari minggu, tanggal 14 Februari, adalah hari hari valentine (ya jelas) dan juga ternyata AIESEC punya gawe namanya Global Village, yaitu event pagelaran kebudayaan dari macem2 negara, partisipannya para pelajar asing yg belajar di Lugansk, dan—kami yg dari Indonesia.
Begitu masuk gedung tempat acaranya, suasana udah ngga kaya di Eropa. Orang-orang afrika di sudut sini, orang-orang Arab di sudut lain, orang-orang Asia timur ngumpul di tengah. Ngga lama, acara pun dimulai. Peserta2 dari Afrika dan Arab mayoritas pada nampilin kombinasi tarian dan nyanyian yg tampaknya hanya dinikmati kalangan mereka sendiri. Khusus dari india, special single dancer, wah seru abis. Dari china, nampilin pembacaan puisi, dan dari Nepal presentasi pake powerpoint.
Tiba giliran Indonesia. Aku berencana buat nyanyiin lagu Alusiau, dan plus-nya juga sudah ada. Tapi begonya, gara2 kemaren keasyikan pesta, AKU NGGA SEMPAT LATIHAN. Udah ah modal nekat aja, toh ngga ada Simon Cowell ama Randy Jackson disini. Selama aku nyanyi, I noticed, orang2 ngga ada yg ikut tepuk2 kaya pas orang afrika itu nyanyi. Bikin aku mulai ngga konsen nyanyinya. Aduh mana ada nada tinggi ngga nyampe pake suara asli lagi, akhirnya pake falset, eergh ngga latiaaaan siiih x(. Tapi syukurlah, begitu aku selesai nyanyi, gedung seakan bergemuruh mau rubuh (ah lebay). Semua penonton tepuk tangan meriah bgt.
Acara ditutup dengan sebuah lagu yg dinyanyiin Karina, (aku lupa apa judulnya) dan semua AIESECers berangkulan di atas panggung. Seharusnya, maksudku SEHARUSNYA, setelahitu acara benar2 selesai. Tapi para pejantan2 dari Arab (Iraq, Turki, Azerbaijan, Afghanistan) itu sekali lagi naek ke panggung dan menari2. Beberapa minta foto bareng aku atau Karina, tapi abis itu lanjut nari2 lagi.
Yeah, while there are so many cultures at once, in one embrace, no matter from where… it IS, world without borders… :)
Sebelum aku certain minggu kedua ini, aku jelasin dulu sebenernya aku ini kok ngapain sih jauh2 ke Ukraina?? Jadi gini, ada sebuah organisasi pemuda Internasional, namanya AIESEC. AIESEC ini menurut sejarahnya, awalnya adalah sebuah organisasi para generasi muda yang ingin memperbaiki dunia pasca perang dunia, untuk mewujudkan persahabatan antar Negara-negara di dunia. Nah organisasi ini punya (salah satu) program namanya Exchange Program bagi para pemuda untuk menjalani internship—atau kerja magang, dan saya mengikuti program tersebut. Proyek yg saya kerjakan adalah sebuah proyek social working bertajuk World Without Borders, atau dalam bahasa Indonesia, Dunia Tanpa Batas. Sesuai dengan namanya, proyek ini bertujuan untuk ‘menerobos’ seluruh batas-batas atau kotak-kotak antar negara2 di dunia—secara pemikiran. Tugasku memberikan presentasi2 dan ‘kuliah’ untuk anak2 usia SMP-SMA, dalam bahasa Inggris—bahasa internasional, jadi secara tidak langsung, aku juga mengajarkan bahasa Inggris kepada mereka.
Sebenernya, dalam proyek ini, ada sekitar 6 orang, tapi entah kenapa, pada akhirnya hanya ada tiga orang. Dua dari Indonesia, dan satu dari China. Nah, si mas2 dari China ini baru dateng di minggu kedua. Dia dateng malem2 dari stasiun dijemput sama Eva dan pacarnya—Anthon. Ketemu si koko ngga bikin aku kaget atau excited yg berlebihan, kaya yg biasanya terjadi kalo aku ketemu orang asing lainnya, abis di Indo tuh aku bisa ketemu orang macam dia kayak tiap hari, apalagi rumahku deket Galaxy Mall x)
Namanya Roy, mahasiswa tingkat 3 dari Beijing. Begitu unpack, dia keluarin sebagian isi tasnya: Macbook Air, iPod Touch, iPod Nano…buset dah ni orang sebenernya mahasiswa apa pedagang apel sih? -.-
***
Suasana kelas sedikit berubah berkat kedatangan si koko satu ini. Ya, pembawaannya yang hiperaktif dan ngga kenal sungkan bikin murid2 mencair dan menganggap kami bertiga sebagai teman—bukan guru. Beberapa murid bahkan mulai berani telfon dan ngajak jalan bareng, well, a good progress :)
Hari sabtu, diadain Welcome Party buat kami bertiga. Sepulang dari sekolah, Dima membawa kami ke rumah Rita, si OCP cantik. Di sanalah welcome partynya. Kita ketemu ama cukup banyak AIESECers: Maya—si Presiden yang jemput aku di Kiev, Pasha Bunin, Pasha Bondarenko, Lena, Nastya, Kate, Ira, Anna, Marina, Yuri, dan Yuri Gorbachev. Kita pun makan, minum, maen ‘Bitches-bitches’, dance AIESEC, nonton video dll.
***
Suasana kelas sedikit berubah berkat kedatangan si koko satu ini. Ya, pembawaannya yang hiperaktif dan ngga kenal sungkan bikin murid2 mencair dan menganggap kami bertiga sebagai teman—bukan guru. Beberapa murid bahkan mulai berani telfon dan ngajak jalan bareng, well, a good progress :)
Hari sabtu, diadain Welcome Party buat kami bertiga. Sepulang dari sekolah, Dima membawa kami ke rumah Rita, si OCP cantik. Di sanalah welcome partynya. Kita ketemu ama cukup banyak AIESECers: Maya—si Presiden yang jemput aku di Kiev, Pasha Bunin, Pasha Bondarenko, Lena, Nastya, Kate, Ira, Anna, Marina, Yuri, dan Yuri Gorbachev. Kita pun makan, minum, maen ‘Bitches-bitches’, dance AIESEC, nonton video dll.
Hari semakin malam tapi kita semua masih pengen nerusin pesta, akhirnya kita pindah lokasi: flatku! Tapi ngga semua ikutan pindah, cuman Pasha Bunin, Ira, Lena, Marina, dan kedua Yuri. Di flat, Roy pun pamer gadget, dia nyetel iTouch nya pake portable speaker, dan kamar kita berubah jadi lantai dansa. Karena kebetulan yang muter lagu agak mellow, jadi kita pada dansa waltz. Meskipun aku suka banget itu waltz, tapi aku ngga pernah melakukannya sama orang yg bener ‘bisa’ dansa, dan Pasha—pasanganku, sepertinya orang itu, udah gitu ya namanya juga Pasha, dansanya klasik banget ala kerajaan hhahah..
Musik pun berubah jadi musik nge-beat yang ngga cocok buat waltz. Si Yuri narik aku dan kita bener2 nge-dance asli kaya di klub. Pasha jadi sama Lena, Roy ama Marina, dan Andin ama Ira—ini yg bikin ngakak, si mbak tinggi banget, kepala si Andin cuman nyampe ujung hidung si mbak.
Cape ngedance, kita istirahat duduk sambil ngobrol2. Tiba2 bel pintu bunyi. Ternyata ada temen2nya Marina mau ikutan gabung. Tapi—oh God, mereka udah pada mabuk gitu, masuk ke kamar, nyiumin semua cewe2, ketawa2 sambil ngga focus matanya. Eh, ngga lama ada bel bunyi lagi. Kata Ira, itu pasti tetangga yg protes soalnya kita udah ngelewatin jam rame. Seketika Pasha langsung bĂȘte dan ngomong-apaan-gitu-ngga-ta
Lima belas menit kemudian, semuanya pada pulang, termasuk para mabuk2. Kecuali Pasha, dia mau nginep sama kita.
***
Besoknya, hari minggu, tanggal 14 Februari, adalah hari hari valentine (ya jelas) dan juga ternyata AIESEC punya gawe namanya Global Village, yaitu event pagelaran kebudayaan dari macem2 negara, partisipannya para pelajar asing yg belajar di Lugansk, dan—kami yg dari Indonesia.
Begitu masuk gedung tempat acaranya, suasana udah ngga kaya di Eropa. Orang-orang afrika di sudut sini, orang-orang Arab di sudut lain, orang-orang Asia timur ngumpul di tengah. Ngga lama, acara pun dimulai. Peserta2 dari Afrika dan Arab mayoritas pada nampilin kombinasi tarian dan nyanyian yg tampaknya hanya dinikmati kalangan mereka sendiri. Khusus dari india, special single dancer, wah seru abis. Dari china, nampilin pembacaan puisi, dan dari Nepal presentasi pake powerpoint.
Tiba giliran Indonesia. Aku berencana buat nyanyiin lagu Alusiau, dan plus-nya juga sudah ada. Tapi begonya, gara2 kemaren keasyikan pesta, AKU NGGA SEMPAT LATIHAN. Udah ah modal nekat aja, toh ngga ada Simon Cowell ama Randy Jackson disini. Selama aku nyanyi, I noticed, orang2 ngga ada yg ikut tepuk2 kaya pas orang afrika itu nyanyi. Bikin aku mulai ngga konsen nyanyinya. Aduh mana ada nada tinggi ngga nyampe pake suara asli lagi, akhirnya pake falset, eergh ngga latiaaaan siiih x(. Tapi syukurlah, begitu aku selesai nyanyi, gedung seakan bergemuruh mau rubuh (ah lebay). Semua penonton tepuk tangan meriah bgt.
Acara ditutup dengan sebuah lagu yg dinyanyiin Karina, (aku lupa apa judulnya) dan semua AIESECers berangkulan di atas panggung. Seharusnya, maksudku SEHARUSNYA, setelahitu acara benar2 selesai. Tapi para pejantan2 dari Arab (Iraq, Turki, Azerbaijan, Afghanistan) itu sekali lagi naek ke panggung dan menari2. Beberapa minta foto bareng aku atau Karina, tapi abis itu lanjut nari2 lagi.
Yeah, while there are so many cultures at once, in one embrace, no matter from where… it IS, world without borders… :)
Subscribe to:
Posts (Atom)