Pick one you like!

Sunday, March 21, 2010

Week #7: Priceless

Minggu ke-tujuh, 15 - 21 Maret 2010

Ngga kerasa udah hampir tujuh minggu aku berada di Ukraina. Semakin hari aku semakin terbiasa sama kehidupan di sini. Aku sudah terbiasa ngga makan makanan dengan rasa yang menusuk tajam, aku sudah terbiasa dengan suhu yang ngga pernah bikin kipas-kipas, aku sudah hafal nomor-nomor bis yang harus aku naikin kalo mau pergi2, aku sudah hafal nama-nama umum orang-orang di sini, ya,: Alex (Sasha), Ivan (Vanya), Vladimir, Zhenya, Andrey, Anatoly, Yuri, Pavel, Sergey, Nastya, Anya, Anton, Maksim, Lena, Liara, Katya, Marina, Karina, and sooo on, aku pun sudah tau harus ngomong apa di supermarket atau di toko fastfood, bahkan aku bisa ngucapinnya dengan aksen asli!

Hmm, aku udah kebiasa juga ngeliatin cowo2 dan cewe2 berambut pirang, emas, coklat, merah, dengan kulit putih dan bermata hazel, hijau, ataupun biru. Aku udah terbiasa hidup di tengah2 mereka yang dulu cuma bisa aku liat di film-film sejarah tentang Semitism, perang dunia, dan sejenisnya. Aku terbiasa dengan cara mereka memberi salam saat bertemu dan berpisah, terbiasa dengan pemandangan yang bagi orang-orang timur dianggap vulgar jika dilakukan di depan umum.


Semua itu aku sadari saat sepulangnya aku dari sekolah suatu hari. Waktu itu Rita yang nemenin.


Rita: ngga kerasa udah tinggal seminggu lagi ya proyek ini berakhir?

Aku: iya..kamu seneng?
Rita: ya seneng, soalnya semua kegilaan ini bakal berakhir. Tapi juga sedih, soalnya kalian bakal pulang abis itu kan?
Aku: iya..sama.. aku juga senang sekaligus sedih..
Rita: kamu seneng ngga selama di sini benernya?
Aku: kamu bercanda? Ya jelas seneng lah…aku dapet banyak hal berharga di sini, mungkin harga tiket pesawat itu sudah kelewat murah untuk dapetin semua ini. Aku dapet banyak pelajaran di sini..
Rita: dan teman-teman..
Aku: dan teman teman..

Aku tersenyum. Ya, aku ngga hanya mengajar di sini, tapi juga belajar. Aku ngga hanya memberi di sini, tapi juga menerima. Aku berbagi.

Aku jadi tahu sedikit-sedikit bahasa Rusia dan Ukraina. Aku jadi tahu budaya tradisional maupun sosialnya. Aku jadi terbiasa dengan aksen khas ini. Aku jadi tahu lebih banyak tentang sejarah Soviet. Aku tahu bagaimana susahnya jadi guru. Aku tahu gimana caranya berkomunikasi dengan orang-orang dari bangsa, budaya, dan usia yang berbeda. Aku jadi tahu bagaimana caranya menjadi teman bagi murid-muridku. Bagaimana menyenangkan mereka bahkan di saat materi yang membosankan.

Bagaimana tetap tersenyum di depan mereka sementara hatiku menangis. Bagaimana tetap sabar dan tertawa saat mereka bandel dan malas. Bagaimana mengerti perasaan, pendapat, dan kepentingan orang lain.

Sampai dengan hal-hal kecil. Aku tahu bagaimana tinggal bersama seseorang yang berbeda jenis dan berbeda karakter. Bagaimana berbagi makanan (kayak di pengungsian aja), berbagi tugas. Bagaimana memasak nasi, membuat makanan dengan rasa sedekat mungkin dengan selera yang merindu masakan rumah. Bagaimana menjadi mandiri dan kuat.

Juga sampai ke hal-hal yang pertama kali dalam hidup kulakukan. Seperti minum alcohol—wine, vodka, bir—semata-mata demi menghangatkan badan dan social respect. Pergi ke night club dan menari di bawah lampu yang gemerlap.

Dan jujur, hal yang paling membuatku betah di sini adalah kebahagiaan yang aku rasakan saat bersama murid-muridku. Rasa bahagia saat melihat mata mereka yang polos dan ingin tahu, walaupun kadang beberapa sangat bandel.

n.a.k.a.l


Seperti pada suatu hari, Sasha dan aku berbincang-bincang ringan sebelum materi dimulai.

Sasha: Dana, Dan.. are you still virgin?
Aku: *keselek* yes of course! Why did you ask that?
Sasha: Are you kidding? Nooo, you can’t be a virgin!
Aku: Why??
Sasha: because you’re 18! You musn’t be a virgin! I’m 17 and I’m not virgin anymore.
Aku: *keselek lagi* really?!
Sasha: yeaaah, and Andrey too, and David too! But Zhenya is still virgin, huahaahahaa
David: What? Is it true you’re still virgin?
Aku: yep!
David: Why?
Aku: Because it’s our norm to not have sex before marriage, in our country, in our tradition, and in our religion…Sasha, what are you doing?!!
Sasha: *bisik-bisik sama Andin, terdapat kata2 ‘Dana’ dan ‘cannot’ dan ‘virgin’.. well, people here usually lose their virginity when they're 16!
Aku: ...

Untunglah abis itu saatnya materi dimulai, sehingga aku ngga akan keselek lebih banyak lagi.
Yah, itulah bandel-bandel khas mereka selain meminta diajarkan bagaimana mengucapkan ‘F*ck you’ dalam bahasa Indonesia.

McD time!


Rasa bahagia saat merasakan mereka di sekelilingku, tertawa bersama, berjalan menyusuri jalanan yang basah, bersalju, ataupun licin. Berbagi hari di bawah naungan suhu yang menggigit dan angin yang menusuk, jika beruntung terkadang di bawah sinar hangat matahari.

:))


Rasa bahagia saat mereka mengerti apa yang aku jelaskan, dan aku pun mengerti apa yang mereka utarakan. Rasa bahagia saat mereka terkadang memamerkan hasil karyanya, memamerkan nilai ujian, memberikanku souvenir kecil. Rasa bahagia saat mereka tertawa mendengar humor-humor yang terkadang kuselipkan dalam pelajaran. Saat mereka terkagum melihat informasi yang menarik. Saat mereka bersorak karena memenangkan game.

Semua itu lebih berharga bagiku dari jumlah uang yang dibayarkan demi tiket pesawat dll. Ya ya mungkin memang orang tuaku yang membayar semua itu, tapi merekapun mengerti, bahwa itu adalah investasi. Investasi demi guru yang terbaik dalam hidup: Priceless Experience.

‘Cost and worth are really different things…’

Sunday, March 14, 2010

Week #6: I LOVE LUGANSK

Minggu ke-enam, 8-14 Maret 2010

Mau tau kenapa posting ini aku kasih judul I LOVE LUGANSK ??

Soalnya…hmm…hm… ngga tau kenapa, di kota ini begitu banyak kegembiraan yang aku rasain sampe sekarang. Begitu banyak cinta, banyak kemudahan yang aku dapet. Contohnya, pas hari senin, tanggal 8. Hari itu diperingati sbg hari wanita sedunia atau International Women’s day, dan di Ukraina dirayakan sbg hari libur nasional. Hari itu para wanita, para ibu, para gadis merayakan bersama orang(-orang) terkasihnya. Hari itu, aku merayakannya bersama Anna :)

with Anna at Melange Cafe


Pagi2 Anna udah dateng ke flat dan bawain aku hadiah sekotak Truffle dan lipgloss. Terus kita keluar ke café bernama Melange buat having brunch (breakfast and lunch). Kita pesen makanan yg sama, omelet isi ayam dan mentega dan masing-masing secangkir kopi yang berbeda. Aku pesen kopi saus kelapa-kacang dan anna pesen kopi-apa-gitu-namanya-aku-lupa-pake-bahasa-rusia-tuh yang sepertinya juga bikin ngiler sambil garuk2 tanah. Sambil makan dan minum, kita saling berbagi cerita. Mulai pendidikan, masa kecil, keluarga, ngomongin Roy, sampai masalah cinta. Di tengah kesendirianku yang jauh dari keluarga, teman, dan jomblo (halah),I felt alive beside her. Rasanya seneng punya temen yang sehati…
abis itu kita jalan2 muter2 pusat kota sambil nyari anting buat aku. Dan pas udah ketemu yang cocok, aku minta dia buat pilihin warnanya :)

my new earrings


Kharkiv Railway Station


alasan kedua kenapa aku cinta kota ini adalah, kota ini sudah serasa rumah. Kenapa? Gini ceritanya:
Akhir minggu ini aku dan Andin pergi ke Kharkiv buat ngunjungin temen kita si Nia yang juga di proyek WWB, sekalian jalan2. Kita berangkat pake kereta hari jumat jam 11 malem. Keretanya nyaman sekali, yah sekelas Sancaka eksekutif lah, lebih bagus dikit. Nyampe di Kharkiv jam setengah 6 pagi hari sabtu. Sambil nungguin dijemput Nia, kita ke McD buat sarapan sekalian WiFi-an. Ngga lama setelah Nia dateng, kita cabut menuju hostelnya dia. Kita menuju stasiun lagi buat naek Metro—kereta bawah tanah. Selesai beli token, kita jalan menuju peron. Bodohnya kita berjalan sambil ngomong bhs.Indo keras buanget dengan terlalu dekat ama polisi…dan alhasil, kita di stop.

Polisi: blukutuk-blup-blukutup (pake bhs rusia ngga tau artinya)
Nia: Ya Ne Panimayo Po Russki (arti: gue ngga paham bhs rusia)
Polisi: bluk-blupukup-paspor, PASPOR!

Akhirnya kita bertiga nunjukkin paspor kita, dan…sialnya, Andin lupa bawa kartu imigrasinya. Akhirnya kita dibawa ke kantor. Aku dan Nia disuruh duduk sementara Andin dimasukin ke kamar sempit bersama salah satu polisi. Aku dan Nia ditanya2in macem2, tapi apalah daya, kita ngga bisa bahasa Rusia dan si polishit nya ngga bisa bahasa Inggris. Biar cepet, si Nia nunjukkin invitation letternya yang (untunglah) dalam bahasa Ukraina. Si polishit angguk-angguk dan (sepertinya) bilang, aku dan Nia boleh keluar dan Andin bakal tetep disini. Andin dan polishit laennya keluar dari kamar, gue ngga tau lah mereka abis ngapain aja, yang jelas andin terlihat buru2 nutup resletingnya. Resleting tas maksudnya… :DD
Nia dan aku ngga mau ninggalin Andin disitu, akhirnya kita pake jalan pintas aja..

Nia: how much money do you want?
Polishit: iufghjvbiulhghgkjn….????
Aku: grivnas grivnas, skolko grivnas??
Polishit: *nulis di kertas: 340 grn*
Aku dan Nia: NOOOOO…. *coret 340 - 50*
Polishit: *tambahin satu nol dibelakang 50*
Nia: *coret satu nol*
Polishit: *tambahin lambang € di depan 50*
Nia: NOOO! *coret €*
Polishits: *ketawa ngakak* HUAHAHAHAHA…… horosho…

Akhirnya kita deal dengan 50 grn atau setara dgn Rp.60.000

Sesudah bayar, si polishit bukain pintu dan aku keluar duluan. Nyampe di luar, aku masukin pasporku ke tas. Aku nunggu sekian menit, kok anak dua ngga keluar2? Aku balik ke dalem. Somehow I don’t know terjadi pertarungan sengit di dalem: Nia si gadis kecil memperebutkan dengan saling tarik-menarik, sesuatu dengan seekor polisi tinggi besar. Sepertinya itu kamera. Si polishit bersikeras ngembaliin tuh duit 50 grn tapi nahan kameranya Andin. Aku ngga tau apa yang terjadi, aku bantuin si Nia mendapatkan haknya kembali. Setelah itu si Nia minta maaf bolak balik, ngasihin lagi tuh duit 50, dan kita dibebasin.

Sampe di luar, aku nanya si Nia kenapa bisa sampe berantem kayak gitu. Ternyata si Nia berniat motret mereka buat dilaporin ke KBRI, tapi baru Nia sempet ngomong ‘kamera’ mereka langsung bertindak. Hff, ya iyalah neng, kalo sampe mereka mau difoto itu namanya mereka bener2 goblok.


worth the dropping x)


Kita pun bebas dan menikmati jalanan dan pemandangan kota Kharkiv. Setelah mampir bentar ke hostel Nia, kita keluar lagi buat presentasi di Indonesian Speaking Club di sebuah institute khusus International Relations and Foreign Affair Studies. Ternyata ada juga segelintir orang yang belajar bhs.Indo disini.
Kita pun berniat makan eskrim di tempat yang kata Nia mantep banget eskrimnya. Di tengah perjalanan ke sana, kita mampir bentar buat foto2 ato sekedar liat2. Pas kita lagi asik foto2, tiba2 ada 3 orang cowo dateng nyamperin kita.

Cowo A: blukutuk-blukkuuk-blup
Nia: Ya ne panimayo po russki
Cowo A: aah, English?
Aku: Da.. (ya)
Cowo B: bledth (misuh).. my…name…is…Andrei
Aku: hi Andrei…
Andrei: money…money…five dollars
Nia: net dollar (ngga ada dolar)
Andrei: bl*dth (misuh lagi) my…name…is…gangster…give money…
Aku: oh Andrei I’m sorry…can u go home now? You’re mother is waiting…

Dan kita bertiga pergi meninggalkan ketiga preman kelas plankton tsb.
Huff…oalaaah leee tholeee, kalo mau malak tu ya mbok yg niat toh, belajar karate dulu, belajar nembak dulu, yg utama, belajar bahasa inggris dulu…AHAHAHAHH

Yah, meskipun (untunglah) Cuma preman kelas plankton., tapi tetep aja sepertinya Kharkiv menyambut kami dengan cara yang sangat-sangat aneh. Pagi diawali dengan polishit, dan ditutup dengan gangster.

Terus kepada siapa sebenarnya kita musti minta tolong?? Kepada Tuhan YME, yah, seratus anak2…

three of us!


Itulah dia alasan2 kenapa aku cinta Lugansk dan segala isinya (weddehh). Meskipun kita kayak hampir tiap hari ngelewatin kantor polisi, ngga pernah tuh di stop dan dimangsa. Meskipun kita hampir tiap hari pulang saat hari udah gelap dan lewat tempat sepi, ngga pernah tuh dipalakin preman. Dan meskipun kota ini nggak sebagus dan sebesar Kharkiv, aku merasa lebih ‘hidup’ disini berkat orang2 baik di sekelilingku :)

i ♥ lugansk, it feels almost like home :)

Sunday, March 7, 2010

Week #5: All About Roy!

Minggu ke-lima, 1-7 Maret 2010

Maret, seharusnya bulan ini musim semi tiba, dan resminya, mulai tanggal 1. Tapi kenyataannya masih aja suhu dibawah nol terus dan jalanan masih licin oleh es. Rekorku sampe saat ini jatuh 4 kali. Yak bagus, I’m stupid and reckless.

Sebulan sudah aku berpetualang di sini. Ngajar, ke tempat2 unik: museum, teater (nonton Romeo and Juliet), billiard, bowling, dll., ketemu temen2 yg baik, murid2 yang nakal, dan sebagainya. Rasanya waktu berjalan cepet banget.

Suatu hari setelah pulang dari ngajar, kayak biasa, pada giliran make modem. Andin-lah yang pertama. Tapi setelah beberapa menit tiba2 Roy request buat make modemnya 5 menit aja. Ya udah akhirnya dikasih sama Andin. 5 menit berlalu, 10 menit…tapi dia masih masang muka serius di depan laptopnya, sambil kadang2 misuh2 ngga jelas gitu pake bahasa cina. Andin yang sebenernnya sebelom itu lagi chat ama cewenya, terus kepotong sebentar gara2 modem dipinjem Roy (yang katanya cuma) 5 menit, mulai protes. Tapi si koko request lagi for another 5 minutes. Lima menit berlalu, andin berkicau lagi, kali ini sedikit ofensif. Si koko langsung berdiri dan bilang: “okay, I will go to café!” sambil ngelempar modemnya dan keluar kamar membanting pintu.

Aku ama andin pandang-pandangan. Dan kita yang emang udah maklum ama sifat si koko pun melanjutkan kesibukan masing2.

Hari semakin larut, jam 00.00 si koko belum juga pulang. Sampai besoknya juga ngga pulang-pulang. Padahal rencananya hari itu kita mau ke Donetsk sama Sasha, muridku.

Siang2, Sasha telpon aku.
Aku: hi sasch..
Sasha: hi Dana, is Roy with you now?
Aku: no, he left our place since last night and doesn’t come back. I don’t even know where he is right now..
Sasha: ooh, I just want to say that I can’t go to Donetsk today because my mom is very angry with me..
Aku: ooh, it’s bad.. why?
Sasha: because I didn’t do what she’s said. I didn’t clean the house, only my room.. I have to say sorry to Roy myself. Because I’m real man..
Aku: okay sasch, I understand. But Roy’s not here now..
Sasha: ok, so please call me when Roy’s back ok?
Aku: horosho.. bye sasha..

Beberapa jam kemudian, sasha telpon lagi..

Sasha: Dana, roy’s just called me and say that he is sick..
Aku: oh really?
Sasha: yes… he said he was drunk last night by a lot of Vodka..

Perfect. Gue khawatir semaleman ternyata dia malah mabok2an..

***

Besok paginya baru dia pulang. Ternyata dia bukan marah ama Andin, tapi marah ama cewenya gara2 cewenya saat ini juga dalam perjalanan menuju Kiev..

Eh, eh…DALAM PERJALANAN MENUJU KIEV??? WHAT THE…

Ya, cewenya datang menyusul pangerannya dengan-alasan-yang-tidak-jelas-dan-tidak-dapat-dimengerti, dan besok pagi dia sudah akan berada di Lugansk.

Ternyata lagi, Roy harus pulang akhir minggu ini. Ya, HARUS pulang, soalnya ada ujian di kampusnya. Temen2 AIESEC bener2 stres dibuatnya. 1. Dia pulang jauh sebelum proyek berakhir, udah gitu 2. Dia masih punya muka buat minta sertifikat, dan 3. Dia ‘bawa’ orang lain, yang bukan dari AIESEC, dan dengan -alasan-yang-tidak-jelas-dan-tidak-dapat-dimengerti.

Besok paginya, pasha nganterin Roy jemput cewenya di stasiun. Ngga lama mereka pun nyampe di flat, ternyata si cece lumayan cantik, yah kaya yang biasa gue liat di GM ato PTC gitu lah, she seems a nice girl. Abis itu kita sarapan bareng di Smecna Hata, sesuai request Roy, restoran ukraina.

***

Malam terakhir si koko dan cece di Lugansk, mereka pengen nonton orchestra, dan aku pun juga tertarik. Akhirnya kita pergi ke filarmoni bareng2 berlima: koko, cece, aku, andin, dan pasha bunin.



inside


Orchestranya keren banget, sesuai ama gedungnya yang wah.. disana kita ketemu Maya, Pasha bondarenko, sama Artem. Sepulangnya dari sana, kita rencana mau buat bye2 party kecil2an buat Roy, yah makan2 bareng di manaa gitu lah. Roy bilang oke, tapi dia mau ambil sesuatu dulu di flat. Akhirnya dia dan cewenya ke flat dan sisanya menunggu di bus stop.

Lima menit, sepuluh menit, dua puluh menit mereka ngga balik2. Si Pasha Bondarenko sempet bercanda kalo mereka mungkin lagi menikmati waktu privat berdua di flat. Begitu Pasha selesai mingkem, dari jauh keliatan si cece turun tangga dan jatoh, terus lari ke ujung jalan. Si koko ngejar dari belakang sambil teriak2. Andin sama Pasha Bunin bergerak nyamperin. Dari jauh kita kedengeran suara teriak2. Tapi kita ngga keliatan apa yang terjadi soalnya mereka jauh banget. Mungkin hampir setengah jam baru Andin dan pasha balik ke kita sambil bawa kunci. Andin bilang barusan dia ngeliat termehek-mehek secara nyata dan versi Ukraina.

Jadi masalah pemicu termehek2 itu sampe sekarang pun masih menjadi misteri, tapi yang jelas, mereka teriak2 di jalan sampe menarik perhatian banyak orang, plus extra tamparan di pipi si cewe. Kita semua ngga habis pikir, secara mereka itu orang asing di sini, si cewe tu udah jauh-jauh dateng ke sini cuman buat berantem? Oh, such a waste banget deh -.-

Akhirnya kita ber-enam pergi ke Chinese Family restoran. Ya, we held Roy’s bye2 party without Roy.

***

Besoknya adalah hari kepulangan Roy. Sore itu kita semua nganterin ke stasiun kereta. Buanyak banget AIESECers yg dateng. Gue jadi curiga, ini mereka emang niat mau nganterin apa gara2 penasaran sama si ‘Phenomenal Chinese Guy’? karena yang aku tau informasi beredar sangat cepat di AIESEC sini, ya, SANGAT CEPAT.’

ini loh si cece


Roy's leaving


Setelah sesi mengharukan, tibalah saatnya kereta harus bergerak pelan menuju Kiev. Selamat jalan my Chinese friend, semoga kau tenang di sana… DI CHINA MAKSUDNYA! AHAHAHAHHAHA…

Well, itulah akhir hari2 ku bersama temanku yang satu itu. Senang, susah, marah, ketawa, bingung, lega kami semua dibuatnya. Tapi kalo ngga ada kamu, pasti hari2ku bakal terasa kayak capcay tanpa isi (duh jadi pengen haha) We'll miss u boy!

Sunday, February 28, 2010

Week #3 and #4: Weeks of Understanding

Minggu ketiga dan keempat: 15 Februari 2010 - 28 Februari 2010

Sudah hampir sebulan aku berada di negeri orang, negeri yang ngga terima beda Negara, beda benua! Ngga terima nyebrang daratan, nyebrang lautan! (yaiyalah secara Indonesia Negara kepulauan, man)

Sudah hampir sebulan aku ngga nonton yang namanya liputan 6, silet, KISS, termehek-mehek, bukan empat mata, bioskop trans tv…

Sudah hampir sebulan aku ngga makan rawon, sate, rujak cingur, pempek, gudeg, tahu tek, mi pangsit, bahkan mungkin ngga makan beras (gue ngga—belom bisa masak beras tanpa rice cooker -.-)

Tapi yang paling kerasa,
Sudah hampir sebulan aku ngga ketemu orang tuaku, adekku, sodara2ku, sahabat2ku, temen2ku, pacar2ku (loh nduwe tah? Siji wae ngga ono kok ngomong pacar-PACAR -.-). Rasanya tiap malem pengen nangis aja..

Tapi, ngapain juga udah jauh2 kesini kok malah cuman nangis? Kesini tuh bukan cuman ngajar non! Tapi juga belajar, belajar apapun: bahasa lain, budaya lain, belajar mandiri, belajar survive, belajar sabar, belajar ngertiin orang *Dana yang menasehati dirinya sendiri, bagus deh.

Ya, belajar ngertiin orang. Di sini aku tinggal bareng 2 cowo yang—jelas—kebiasaan dan sifatnya beda. Andin: orangnya manut, helpful, dikit2 sungkan, ngga ada kata kenyang di kamusnya, kalo ngelawak selalu hampir agak sedikit lucu, kalo kentut ngga dipencet tombol MUTE-nya, dll. Sementara Roy: orangnya ceria, talkative, ngga punya sungkan, tiap pagi selalu nyetel lagu2-dari-negaranya-dengan-volume-yg-tidak-bersahabat, kalo pagi sarapannya dikit tapi begitu malem empat piring pun masih kurang, agak suka seenaknya sendiri soalnya kebiasa jadi anak tunggal.

Nah, sifat yang terakhir ini sempet bikin percikan di antara kita (ceilah). Gini ceritanya:
Jadi kita bertiga itu dapet jatah internet 170 MB per hari dengan satu modem. Untuk nyari bahan ngajar sama buat chatting pake IM itu udah cukup banget lah. Dari awal kita udah sepakat ngatur jam2 make nya juga. Nah, pada suatu hari, sepulang dari ngajar, Andin minta jatah make duluan. Beberapa jam berlalu, gentian Roy yang make. Oke, aku ngalah, aku bakal make modemnya besok paginya. Aku pun pergi tidur.

Malam itu lumayan dingin. Aku kebangun beberapa kali gara2 kedinginan. Pas aku kebangun itu samar2 aku kedengaran suara dari arah dapur. Suara2 orang ngomong pake bahasa yang aku ngga tau. Namanya juga ‘ngelilir’ ngga jelas lah pokoknya. Beberapa kali kebangun itu aku denger suara2 itu terus.
Paginya aku bangun, dan pas masih setengah sadar, aku liat si koko masuk dari arah dapur sambil bawa Mac-nya, dan langsung mblengsek molor di kasur. Aku pergi ke dapur buat masak air sambil bawa laptop dan menikmati giliranku ber-internet ria. Aku klik tombol ‘connect’. Tapi ngga kayak biasanya, lama banget si modem baru bisa ter-autentikasi. Aku buka salah satu browser dan aku masukkin alamat web langgananku—haha, ya, facebook. Eh, tapi tiba2 keluar kayak sehalaman ‘WORO-WORO’ dalam bahasa prancis atau “ACHTUNG’ dalam bahasa maluku, ada tulisan ‘увага’ atau bacanya ‘uvaga’ yang artinya ‘perhatian’. Sisanya semua tulisan bahasa kraus-kraus dalam huruf Cyrillic yang meskipun aku isa ngeja dikit2, AKU.NGGAK.NGERTI.ARTINYA. akhirnya aku telpon eva, aku coba bacain itu tulisan ke dia, dan katanya, itu berarti: PULSA DI MODEM HABIS…

…WHATHELL?! Perasaan baru kemaren, itu modem diisi pulsanya dan itu jatah untuk sebulan, tapi habis dalam waktu semalam??

Jadi kalo disini itu gini sistemnya: kita deposit untuk modem, 2 grivnas (Rp.2500) per hari untuk 170 MB, jadi sebulan bisa deposit 60 grivnas. Tapi kalo udah lewat 170MB, sisa pulsa bakal keambil kelipatan 10 grivnas untuk tiap kelipatan 10 MB. Jadi kalo misalnya sehari habisnya 200 MB, pulsa yg kepotong ya 32 grivnas. Nah ini 60 grivnas habis kan berarti telah dipakai kurang lebih 220 MB dalam waktu semalam!!
Andin bangun dan denger aku ngobrol di telpon sama Eva, dan dia lapor kalo semalem dia juga bangun buat pipis dan ngeliat si koko di dapur lagi streaming video call. OH, YA SEKARANG JELAS KALO BEGITU. Aku pun jelasin sama Eva. Di tengah2 pembicaraan, si koko nongol ke dapur mungkin kedengeran suaraku. Aku masih ngomong ama Eva sementara dia mulai melancarkan kata2 pembelaannya dia.

Begitu aku selese telpon…

Roy: ngapain kamu ngadu2 ke mbaknya kayak gitu?

Aku: loh, aku cuman bilang kalo internetnya habis kok, terus dia nanya kenapa yaudah aku jelasin..

Roy: semalem tu aku ada masalah sama mantanku, makanya kita harus video call, blab la blaa.. ini cuman masalah kecil aku ngga mau cuman gara2 ini kita jadi berantem kayak gini, aku marah sekarang. Ini cuma perkara modem, aku bisa beliin pulsanya, aku punya duit kok! Berapa sih??!

Aku: aku ngga masalahin duit, aku juga punya kalo cuman duit! Ini masalahnya tentang berbagi.
Meskipun kamu teriak2 kamu punya duit sekarang tapi mana? Internetnya gak balik kan? Untung ini aku ngga butuh2 bgt, nah kalo aku pas butuh bgt gimana?

Yah begitulah, anak tunggal dalam keluarga, kebiasa dimanja, kebiasa apa2 tersedia, kebiasa semuanya buat dia, ngga biasa berbagi.

Masalah kedua, waktu malem ngerayain Men’s Day.
Apa itu Men’s Day? Men’s Day itu Hari Pria (ya kucing gue juga tau kalo gitu doang). Sebenarnya itu perayaan buat pria yang berangkat wajib militer demi melindungi bangsa dan Negara, tapi karena sekarang udah ngga ada lagi yg namanya wajib militer, jadilah itu hari semua pria.
Pada awalnya, Pasha janjiin Andin dan Roy buat keluar bareng pas malem perayaan itu, mungkin aja ke night club. Nah, waktu itu aku udah siap2 ditinggal sendirian di flat. Eh tapi begitu Pasha dateng jemput di flat, aku diajakin juga. Entah emang karena dia pengen aku ikut ato karena dia kesian ngeliat cewe cantik lemah gemulai bakal ditinggal sendirian di flat di malam yg dingin itu :p. Akhirnya jadilah kita keluar berempat. Ternyata eh ternyata, Sergey udah nungguin di tengah perjalanan.

tuh gede kan mejanya?


Sepanjang perjalanan, Roy excited banget tentang night club dan night club. Tapi Sergey bilang, kalo mau ke night club, dia ngga bakal ikut soalnya ngga punya uang (ya, orang sini kalo ngomong apa2 frontal bgt, ngga atek gengsi2an barang). So, kita ngga jadi ke night club, kita mutusin buat maen billiard di Kino. Kita pun maen billiard Rusia: meja lebih lebar dengan lobang lebih kecil dari billiard Amerika= lebih susah. Di tengah2 kita maen, salah satu AIESECer cowo dateng lagi, namanya Zhenya ato biasa dipanggil Kabal (ngga tau kenapa). Cowo yg manis dan ramah, ngajarin aku maen billiard, ngga kayak Pasha, malah menjerumuskan -.-

gaya banget lah gue


Selesai maen billiard, kita jalan lagi, bermaksud nyari tempat makan. Kita pun ke Ravenna, resto pizza deket stadion. Kita pesen dua pizza gede masing2 6 slices untuk 6 orang. Jadi per orang dapet 2 slices. Ya jelas lah, 2 slices pizza tipis sama sekali bukan makan malam bagi Roy, baginya itu cuman snack. Dia pun request buat dipesenin makanan laen lagi, tapi Kabal dan Pasha bilang ngga usah soalnya mereka bakal masakin sesuatu buat kita di flat nanti.

Kita pun pulang, Sergey berpisah jalan ama kita di center, kita pun balik berempat. Sampe di flat, ternyata udah malem banget, jadi si dua cowo Ukraina itu (eh satu ding, satunya Rusia) ngga jadi masakin kita dan langsung cabut abis numpang pipis.

Begitu mereka berdua pulang, si koko langsung buka laptopnya dan nggak-tau-ngapain-tanpa-suara-sama-sekali. Aku yang capek langsung siap2 buat tidur. Kita bertiga ber-autis dalam keheningan. Tiba2 roy yang (mungkin) udah ngga tahan langsung nyeletuk: “apaan tuh tadi? Katanya perayaan? Perayaan apa? Kita ngga kayak ngerayain apa2 tadi! Cuman jalan, jalan, dan jalan terus, capek iya, seneng ngga dapet.”

Aku dan Andin cuman diem, maklum lah 2 kali kemauannya ngga diturutin malam ini, aku bisa paham kenapa dia uring2an. Sebelum tidur, aku nyeletuk juga: “hmm, iya capek sih, tapi kapan lagi kita bisa maen billiard Rusia kalo ngga tadi sama mereka. Kamu juga seneng kan tadi pas maen?” dan aku langsung ngorok (ngga ding).

Yah tapi gimana pun, aku harus bisa maklum, kalo pengen bisa dimaklumin. Toh kita masih punya kurang lebih 6 minggu buat berangkat ngajar sama2, jalan2 sama2, makan sama2, tidur sama2 (eh maksudnya sama2 waktunya), dan aku bisa jadi semakin dewasa juga dalam memandang suatu masalah, Alhamdulillah deh ;)

Sunday, February 14, 2010

Week #2: Cultural Week!

Minggu kedua, 8 Februari 2010 – 14 Februari 2010

Sebelum aku certain minggu kedua ini, aku jelasin dulu sebenernya aku ini kok ngapain sih jauh2 ke Ukraina?? Jadi gini, ada sebuah organisasi pemuda Internasional, namanya AIESEC. AIESEC ini menurut sejarahnya, awalnya adalah sebuah organisasi para generasi muda yang ingin memperbaiki dunia pasca perang dunia, untuk mewujudkan persahabatan antar Negara-negara di dunia. Nah organisasi ini punya (salah satu) program namanya Exchange Program bagi para pemuda untuk menjalani internship—atau kerja magang, dan saya mengikuti program tersebut. Proyek yg saya kerjakan adalah sebuah proyek social working bertajuk World Without Borders, atau dalam bahasa Indonesia, Dunia Tanpa Batas. Sesuai dengan namanya, proyek ini bertujuan untuk ‘menerobos’ seluruh batas-batas atau kotak-kotak antar negara2 di dunia—secara pemikiran. Tugasku memberikan presentasi2 dan ‘kuliah’ untuk anak2 usia SMP-SMA, dalam bahasa Inggris—bahasa internasional, jadi secara tidak langsung, aku juga mengajarkan bahasa Inggris kepada mereka.

Sebenernya, dalam proyek ini, ada sekitar 6 orang, tapi entah kenapa, pada akhirnya hanya ada tiga orang. Dua dari Indonesia, dan satu dari China. Nah, si mas2 dari China ini baru dateng di minggu kedua. Dia dateng malem2 dari stasiun dijemput sama Eva dan pacarnya—Anthon. Ketemu si koko ngga bikin aku kaget atau excited yg berlebihan, kaya yg biasanya terjadi kalo aku ketemu orang asing lainnya, abis di Indo tuh aku bisa ketemu orang macam dia kayak tiap hari, apalagi rumahku deket Galaxy Mall x)


it's Roy :D
Namanya Roy, mahasiswa tingkat 3 dari Beijing. Begitu unpack, dia keluarin sebagian isi tasnya: Macbook Air, iPod Touch, iPod Nano…buset dah ni orang sebenernya mahasiswa apa pedagang apel sih? -.-

***

Suasana kelas sedikit berubah berkat kedatangan si koko satu ini. Ya, pembawaannya yang hiperaktif dan ngga kenal sungkan bikin murid2 mencair dan menganggap kami bertiga sebagai teman—bukan guru. Beberapa murid bahkan mulai berani telfon dan ngajak jalan bareng, well, a good progress :)
Hari sabtu, diadain Welcome Party buat kami bertiga. Sepulang dari sekolah, Dima membawa kami ke rumah Rita, si OCP cantik. Di sanalah welcome partynya. Kita ketemu ama cukup banyak AIESECers: Maya—si Presiden yang jemput aku di Kiev, Pasha Bunin, Pasha Bondarenko, Lena, Nastya, Kate, Ira, Anna, Marina, Yuri, dan Yuri Gorbachev. Kita pun makan, minum, maen ‘Bitches-bitches’, dance AIESEC, nonton video dll.

Welcome Party


Hari semakin malam tapi kita semua masih pengen nerusin pesta, akhirnya kita pindah lokasi: flatku! Tapi ngga semua ikutan pindah, cuman Pasha Bunin, Ira, Lena, Marina, dan kedua Yuri. Di flat, Roy pun pamer gadget, dia nyetel iTouch nya pake portable speaker, dan kamar kita berubah jadi lantai dansa. Karena kebetulan yang muter lagu agak mellow, jadi kita pada dansa waltz. Meskipun aku suka banget itu waltz, tapi aku ngga pernah melakukannya sama orang yg bener ‘bisa’ dansa, dan Pasha—pasanganku, sepertinya orang itu, udah gitu ya namanya juga Pasha, dansanya klasik banget ala kerajaan hhahah..

Musik pun berubah jadi musik nge-beat yang ngga cocok buat waltz. Si Yuri narik aku dan kita bener2 nge-dance asli kaya di klub. Pasha jadi sama Lena, Roy ama Marina, dan Andin ama Ira—ini yg bikin ngakak, si mbak tinggi banget, kepala si Andin cuman nyampe ujung hidung si mbak.

Cape ngedance, kita istirahat duduk sambil ngobrol2. Tiba2 bel pintu bunyi. Ternyata ada temen2nya Marina mau ikutan gabung. Tapi—oh God, mereka udah pada mabuk gitu, masuk ke kamar, nyiumin semua cewe2, ketawa2 sambil ngga focus matanya. Eh, ngga lama ada bel bunyi lagi. Kata Ira, itu pasti tetangga yg protes soalnya kita udah ngelewatin jam rame. Seketika Pasha langsung bête dan ngomong-apaan-gitu-ngga-tau-ah pake bahasa rusia ke si mas2 mabuk.

Lima belas menit kemudian, semuanya pada pulang, termasuk para mabuk2. Kecuali Pasha, dia mau nginep sama kita.

***

Besoknya, hari minggu, tanggal 14 Februari, adalah hari hari valentine (ya jelas) dan juga ternyata AIESEC punya gawe namanya Global Village, yaitu event pagelaran kebudayaan dari macem2 negara, partisipannya para pelajar asing yg belajar di Lugansk, dan—kami yg dari Indonesia.

Begitu masuk gedung tempat acaranya, suasana udah ngga kaya di Eropa. Orang-orang afrika di sudut sini, orang-orang Arab di sudut lain, orang-orang Asia timur ngumpul di tengah. Ngga lama, acara pun dimulai. Peserta2 dari Afrika dan Arab mayoritas pada nampilin kombinasi tarian dan nyanyian yg tampaknya hanya dinikmati kalangan mereka sendiri. Khusus dari india, special single dancer, wah seru abis. Dari china, nampilin pembacaan puisi, dan dari Nepal presentasi pake powerpoint.

Tiba giliran Indonesia. Aku berencana buat nyanyiin lagu Alusiau, dan plus-nya juga sudah ada. Tapi begonya, gara2 kemaren keasyikan pesta, AKU NGGA SEMPAT LATIHAN. Udah ah modal nekat aja, toh ngga ada Simon Cowell ama Randy Jackson disini. Selama aku nyanyi, I noticed, orang2 ngga ada yg ikut tepuk2 kaya pas orang afrika itu nyanyi. Bikin aku mulai ngga konsen nyanyinya. Aduh mana ada nada tinggi ngga nyampe pake suara asli lagi, akhirnya pake falset, eergh ngga latiaaaan siiih x(. Tapi syukurlah, begitu aku selesai nyanyi, gedung seakan bergemuruh mau rubuh (ah lebay). Semua penonton tepuk tangan meriah bgt.

Alusiau is in the house


Acara ditutup dengan sebuah lagu yg dinyanyiin Karina, (aku lupa apa judulnya) dan semua AIESECers berangkulan di atas panggung. Seharusnya, maksudku SEHARUSNYA, setelahitu acara benar2 selesai. Tapi para pejantan2 dari Arab (Iraq, Turki, Azerbaijan, Afghanistan) itu sekali lagi naek ke panggung dan menari2. Beberapa minta foto bareng aku atau Karina, tapi abis itu lanjut nari2 lagi.
with Ali, guy from Iraq


Yeah, while there are so many cultures at once, in one embrace, no matter from where… it IS, world without borders… :)

Sunday, February 7, 2010

week #1: between coldness and warmth

Minggu pertama: 2 Feb 2010 – 7 Feb 2010

Hari-hari dingin bersalju dengan suhu antara -15’ C sampai -10’ C. benar-benar tantangan besar buatku untuk beradaptasi. Bayangin, terbiasa ‘disiksa’ oleh suhu 29’ – 40’ C di Indonesia, sekarang harus ‘disiksa’ juga dengan suhu…bukan turun 5 derajat, sepuluh derajat, limabelas derajat…tapi bisa turun lebih dari limapuluh derajat selsius!!!

Untuk suhu se-ekstrim ini sebenernya aku udah persiapan lumayan lengkap dari rumah: mantel, baju dalem wol, baju2 tebel, kaos kaki, syal, topi, pelindung telinga, dan sepatu boot. Ohya, juga masker. Kenapa?? Karena kami (aku dan ibuku) parno dengan masalah sinusitisku. Ya, sinusitis dalam yang bikin aku ditusuk2 jarum belasan kali di tanganku. Sinusitis bandel yang gara2 dia sempat dikira ada ‘apa-apa’ yang lebih parah di dalem kepalaku. Well, balik ke persiapan musim dingin, ternyata menurut temen2 disini, sepatu bootku itu terlalu tipis dan mereka menyarankan—bukan, bukan—mengharuskan aku untuk beli sepatu yang lebih tebel.

Alhasil, di hari pertama aku pergi untuk presentasi di sekolah, hari itu juga aku beli sepatu. Pagi-pagi, dijemput sama temen AIESEC bernama Pasha yang notabene seganteng—ngga ding—lebih ganteng dari Pasha Ungu, kita jalan dari flat menuju sekolah yang entah-di-mana itu. 100-200 meter belom kerasa bekunya. Masih excited banget sama salju yg turun hari itu. Eh tapi setengah-satu kilo selanjutnya mulai kerasa. Angin beku yang menusuk tiap inchi kulit sampe ke tulang (lebay sih, tapi emang rasanya gitu, brr..). toko pertama, kedua, ketiga, belom ada sepatu yang cocok. Cape muter2, kita pun beli makan siang. Semacem pancake yang dimasak ala D’crepes kalo di Indo dengan berbagai macam filling, namanya Blinok, berasal dari kata Blini—atau pancake dalam bahasa Rusia.

Karena waktunya udah mepet buat presentasi di sekolah, akhirnya kita tunda dulu hunting sepatunya. Kita pun ke sekolah pertama: sekolah #26. Gedungnya gede banget, aku sempet liat ada murid2 sekitar umur 9-10 tahunan tapi juga ada murid2 sekitar 16-17 tahunan. Oh ternyata di Ukraina, sekolah ngga dibagi 3 kayak di Indo: SD, SMP, SMA. Tapi jadi satu dari kelas 1 – 11 dan untuk mulai tahun ini sampai kelas 12.

my luxurious black Reebok boots with blue fur and emboss
Presentasi awal Cuma tentang pengenalan diri dan pemutaran DVD tentang Indonesia yang (untungnya) kita dapet dari Depbudpar. kelar presentasi di sekolah ini, kami berlima: aku, Andin, Pasha, Eva, dan Lena lanjut hunting sepatu buat aku. Kitapun ke City Centre dan akhirnya dapetlah sepatu yang pantas, hahaha… Women’s boot hitam Reebok dengan bulu di dalemnya yg warnanya biru. Keren banget (thanks to Pasha for choosing this for me :*) .

Pulang ke flat, aku—and I believed all of the people in the room—laper. Secara impulsive aku mutusin buat masakin semua kepala di ruangan itu: Indomie goreng! Hahaha. Setelah kelima porsi disantap empunya masing-masing, Lena dan Pasha (agak sedikit) teriak teriak minta air—haha, ya mereka kepedesan.


intercultural pair
Si Pasha, yang memang paling excited sama interns (sebutan kita), ngeliat blangkon Andin tergeletak gitu aja di atas lemari, dia sahut aja tuh topi an dipake. Terus dia minta didandanin bener2 kaya orang jawa.

Dan akhirnya malam itu ditutup dengan sesi foto dan toasting beer: for intercultural friendship.

warm friendship in cold snowy day


***

Beberapa hari setelah itu, aku dan Andin dateng di LCM (Local Comitee Meeting), kita pun kenalan sama seluruh anggota AIESEC di kota itu, dan ternyata ada juga seorang returnee dari Bulgaria, namanya Marina. Cewek yang cantik banget, dia juga ramah dan excitable. Setelah LCM, beberapa dari mereka ngajak kita makan pizza dulu si City Centre, ada 7 orang dalam rombongan itu: aku, Andin, Pasha, Eva, Lena, Marina, dan Sergey: cowok imut babyfaced berumur 17 th.

Pulang dari City Centre, kita berubah formasi: Eva dan Marina ke arah timur sedangkan sisanya kea rah barat. Ternyata kita mau lanjutin kumpul2nya di flat, oh oke, siapa takut?!

Sampe di flat, ternyata ada dua orang lagi yg gabung: Sasha—pacar Lena, dan Marina-yang-lain-tapi-sama-cantiknya. Kita pun ngobrol-ngobrol, liat video tentang Indo, liat video2 lucu, dan yang paling seru: main TWISTER. Permainan yang sangat mengandalkan keseimbangan dan keberuntungan.

playing twister


Satu set mainan ini berupa selembar karpet dengan 24 lingkaran dengan 4 warna dan sebuah roulette. Ada satu orang spinner dan sisanya player. Setiap player harus meletakkan kedua kakinya di masing2 satu lingkaran warna apa saja di atas karpet. Tugas spinner memutar roulette untuk masing-masing pemain secara bergiliran sebanyak dua kali, sekali untuk warna dan sekali untuk anggota badan. Semisal, spinner memutar roulette untuk aku, aku dapet tangan kanan dan kuning, itu berarti aku harus naroh tangan kananku di lingkaran berwarna kuning yang terdekat dari aku, tapi kalo ternyata udah ada anggota badan orang laen di lingkaran itu, aku harus naroh tanganku di lingkaran kuning lainnya, yg lebih jauh mungkin. Sehingga semakin kesini, permainannya semakin seru, soalnya kaki dan tangan semua player udah pada kemana2, dan yg ngga kuat jaga keseimbangan bakal jatoh dan keluar dari karpet. Sampe akhirnya, dua pemain terakhir yg tersisa adalah aku dan Sasha. Si spinner—Sergey—sengaja lama2in roulettenya buat berhenti. Karena posisiku yang nggak banget akhirnya aku nyerah soalnya satu kakiku menumpu berat badanku sambil jinjit sementara tanganku ke mana-mana. Kakiku ngga kuat dan aku pun roboh dan kalah.

Tapi, malam yang dingin itu, jadi terasa sangat hangat oleh tawa kami :)

Tuesday, February 2, 2010

a story of a single and available traveller (part 3)

Gatwick Airport, London, 1 February 2010
11.00 GMT 0

Masuk ke pesawat UIA (Ukraine International Airlines) dengan perasaan yang sedikit overexpectation, ternyata sampe di dalem ngga seperti yg aku bayangin. Yah, sama Garuda masih bagus Garuda lah. Susunan kursi kayak penerbangan domestic di Indo: 3-3. Pas check in udah dibilangin kalo kita ngga bisa dapet window, dapetnya aisle, jadi aku duduk di tengah dan Andin duduk di pinggir. Ngga lama, orang yg (harusnya) duduk di jendela dateng, seorang om-om Ukraina (kayaknya) kaya. Tapi si om ngga kedapetan tempat di hand luggage, akhirnya dia nyuruh aku duduk lagi tapi sambil bingung nyari2 pramugari. Aku tunjukkin di mana si pramugari berada, dan si om pun nyamperin. Aku nungguin si om balik tapi kok lama banget, padahal pesawat udah siap take off. Aku liat ke belakang, eh ternyata si om duduk di belakang, emang ada beberapa kursi kosong pas itu.

Pesawat pun take off, meninggalkan silaunya London siang itu.
Di dalem pesawat, suasana Eropa Timur sudah mulai terasa. Kanan kiri depan belakang, eh nggak juga ding, sebelah kananku Andin n sebelah kiriku langit kok :p. yah mulai dari muka-muka pramugari dan penumpangnya, sampe buku panduan keselamatan yg udah pake bahasa blukutuk-blukutuk. Karena di penerbangan sebelumnya aku tidur cuma ngga sampe sejam, jadi aku putusin buat tidur di penerbangan ini. Aku coba buat tidur, ngga bisa bisa, aku coba lagi tetep ngga bisa, ada apakah gerangan? Ooh ternyata….SAYA LAPAR !!! mana makanan ngga dateng2 lagi… akhirnya aku ke kamar mandi dulu, pas lagi ngantri, aku sempet ngintip ruang pramugari di belakang, ohh!ternyata makanan sudah siap! Emang udah kecium bau-bau mentega gitu deh.. yes, semoga makanannya manusiawi…

Begitu kembali ke tempat duduk, makanan udah siap di meja. Bismillahirohmanirohim, voila! Waaaw, NASI AYAM! Aku icipin rasanya kayak nasi Hainan tapi enak juga kok, yah namanya juga orang laper. Selesai makan aku nyoba lagi buat tidur, oh yah, aku tertidur.

Kiev Sky, 15.30 GMT +2

Kebangun, di luar masih awan. Tiba- tiba: ‘ting-tong, dear passanger…’ ooh wooow, ternyata sebentar lagi mendarat..hemm hemm saya puas lah tidur 6,5 jam termasuk beda waktu hehe.. ngga lama kemudian mulai tampak di jendela hamparan dataran putih di bawah sana, aku deg-degan banget sebentar lagi aku bakal ngeliat yang namanya salju untuk yg pertama kali dalam hidupku. Pesawat pun mendarat dengan mulus, meskipun interior sekelas Li*n Air, tapi pilotnya at least lebih baek lah..

Kiev, Ukraine. 17.00 GMT +2

Turun dari pesawat hawa dingin menusuk kulit. Meskipun aku udah pake 3 lapis baju berbahan wol yang pasti bikin keringetan kalo dipake di jogja meskipun satu lapis aja, tapi tetep aja si hawa dingin menyusup-nyusup. Abis turun langsung naek shuttle bus. Turun di terminal, langsung berupa loket imigrasi. Yang masuk ke bagian WNU (warga Negara ukraina) lebih dari separoh, dan itu berarti di bagian loket asing Cuma segelintir dua gelintir lah. Aku dan Andin ngisi immigration card dan mulai ngantri. 5 menit eh udah selesai, cepet banget ngga kaya di London (ya iyalah!).

Selesai dari loket imigrasi, kita ambil bagasi. Ngga perlu nunggu conveyor belt, ternyata bagasi kita ‘udah ada yang nurunin’ dari ban berjalan itu. Kita samperin. Tapi, oh, WTH, apa2an ini? Koper besar gue cacat dimana2: handle ilang, bodi remuk. Ah sial nih. Akhirnya kita ke bagian cek ulang bagasi. Si andin udah jalan duluan dan dia suruh masukin barang2nya ke scanner lagi dan ditanya2in macem2.

Begitu aku dateng, si om2 petugas Cuma nanya:
“student?”
gue jawab : “yes”
petugas: “go, go..”

ngek. Sementara si Andin berkutang—eh—berkutat naekin barang2nya lagi ke troli, aku langsung aja nglewes keluar HAHAHAHA B-)

andin juga udah selese akhirnya kita keluar bareng dan mencari2 tulisan “AIESEC HERE!” ato “Mr.Andin n Ms.Dana” ato “SEMBAKO MURAH” (loh salah ya?) tapi ngga ada. Akhirnya kita ke pojok n berharap seseorang bakal menyadari wajah2 eksotis ini dan menyadari bahwa kamilah yg mereka cari. Sementara kita nongkrong di pojokan, banyak juga om2 yang nawarin (bukan, bukan nawarin gituan) tumpangan, alias taksi, termasuk mas2 yg mirip Andrei Arshavin. Ternyata ngga jauh beda sama di Soekarno-Hatta ato Stasiun Gubeng (nggak, nggak di Juanda kok. Juanda ngga gitu deh.), sopir2 taksinya pada agresif hahaha.

Sepuluh menit nungguin, kok ya ngga ada yg nyamperin. Aku udah parno secara keadaan kita: orang asing, di tengah orang2 yang bahasanya kita ngga tau sama sekali, kedinginan, dan ngga tau contact person. Aku sms ibuku : Ma, aku udh nyampe Kiev tp yang jemput ngga muncul2, coba tlpin kedutaan/orang2nya…

5 menit, 10 menit kemudian belom ada balesan. Aku coba sms lagi: MA…Piye iniii?!! Tetep ngga ada balesan. Tiba2…

Andin: ya Allah, Mano!!
Aku: apa ndin!
Andin: tas pinggangku mana?? *nyari2 di sekitar troli
Aku: yaampun piye toh, tadi terakhir dimana???!!
Andin: pas cek ulang bagasi tadi tak lepas, tak taroh scanner, terus…..
Aku: …lupa ngga kamu ambil???
Andin: iya paling.. aduh piye iki, paspor duit nyawaku semuanya disituu!!!
Aku keinget pas di Heathrow pagi tadi, aku ngeliat ada konter bertuliskan: Lost Baggage Claim
Aku: coba cari Lost Baggage Claim Counter!
Andin: piye2 caranya?
Aku: coba ke informasi terus nanya. Itu di sono noh, information counter.. *nunjuk
Andin: ok ok, tunggu sini ya..

Bagus. Sekarang kondisinya jadi: orang asing, di tengah orang2 yang bahasanya kita ngga tau sama sekali, kedinginan, dan ngga tau contact person, dan temen gue kehilangan tas pinggang, dan dia nyari2 info sehingga gue SENDIRIAN! Aduh kalo ada yg nyulik gimanaaa? xO Ya Allah tolong

5 menit sepeninggal andin, ada sesosok mbak-mbak cantik berambut panjang (bukan, bukan mbak kunti ato sadako-chan) deketin aku.

Mbak2: are you from AIESEC?
Aku: yes..
Mbak2: *tampang lega* ah, finally. I’ve been waiting for 15 minutes and trying to call you but your phone couldn’t be reached, this is your number, right? *nunjukkin hapenya ke depan hidung gue
Aku: ah d*mn it I forgot to tell Margaryta that I’d be use another number here, so it was my fault, sorry..
Mbak2: okay, so I am Maya and you…..
Aku: Dana
Maya: ah yes, Dana. But I thought you were with another one?
Aku: oh yes, he’s losing his waistbag and I told him to go to lost baggage claim counter, he told me to wait here
Maya: uhm, maybe he has to be fast cause our train to Lugansk will go in 30 minutes.. how’s his appearance?
Aku: he’s the same tall as me, wearing brown jacket and with Asian face
Maya: ok, I will try to look for him, wait here..
Another 5 minutes, 2 orang itu dateng , yang satu mukanya dikit kesel tapi lega, yang satu mukanya bingung plus merasa bersalah.
Maya: we can go to station by bus it will be cheaper, but it will take too long and too hard with your luggage, so maybe we can take the taxi.

Si mbak ngilang sebentar dan kembali bersama si kembarannya Andrei Arshavin.

Maya: let’s go guys…

Si Andrei Arshavin ‘merampas’ troli dari tanganku dan kita lari2 kecil menuju mobilnya dia. Begitu keluar gedung airport, buset dingin mampus, mana gerimis rintik2 lagi..
Kita masuk mobil dan segera meluncur ke stasiun. Selama perjalanan aku ngga abis pikir, nih sopir taksi aja gantengnya sama ama pemain bola, terus yg jelek disini kaya apa ya? Xp. Udara di mobil cukup menolong tanganku yg udah beku, soalnya si mas Andrei punya penghangat di mobilnya. Huff, thanks God..

Kita pun sampai di stasiun. Selesai turun kita langsung menggeret koper masing2. Argh sial, mana koperku handle nya ilang lagi, jadi musti ngangkat puller nya kalo pas di tangga. Begitu nyampe peron, si kereta udah siap meluncur. Oow, kita buru2 naik dan menaikkan barang2 kami yang total beratnya kurang lebih hampir sama dengan berat badanku itu. Bayanganku, setelah perjuangan itu, kita bisa langsung duduk dan istirahat di kereta yang hangat, tapi….

Maya: guys, our place is in wagon number 15 and this is wagon number 7. Let’s move.

Sambil sedikit bingung, kita ngikutin si mbak. Tuhanku! Ternyata ngelewatin satu gerbong dengan bawaan total 30 kg dan bervolume-entah-berapa itu bagaikan latian lat pull down di celebrity fitness dengan beban 20 kg sebanyak 10 x 3 repetisi (hassyah opo kui). Soalnya FYI gerbong itu gang nya sempit abis dan ngga mulus lantainya. Belom lagi kalo diliatin orang2, jadi serasa nambah 1 repetisi lagi. Kita terus berjuang, bolak balik diliatin n diketawain orang2 yg ada di gerbong yang kita lewatin. Malah di suatu gerbong, gara2 aku udah capek abis mampus, aku kesusahan banget geret koper, ada cowo di belakangku mau lewat kehalang aku, sampe dia ngangkatin koperku tinggi2 seolah ngomong: ‘ayo neng, ke mana nih kite? Aye tolongin dah’ . tapi aku menolak dengan cara halus-tanpa-kata.

Ngeliat gerbong tujuan kita tuh kaya ngeliat oase di padang gurun. Ternyata kita kedapetan tempat kelas 3 dengan tempat duduk bertingkat yang bisa dijadiin kasur dan tanpa kompartemen. Sebenernya hal pertama yang aku pengen banget adalah: MINUM! Ya, sehabis fitness pasti butus minum kan? Hehehe.. nah kebetulan si Maya nawarin:

Maya: kamu mau kopi apa bir?
Aku: (dalam hati) bir…kopi…bir….kopi… AIR PUTIH AJA MBAK KALO BISA
Maya: okay

Ngga lama si mbak balik dari somewhere dengan sebotol air mineral berjudul BONAQUA berwarna biru tua. Aku pun minum. Pssshht…eh, WTH? Kok maknyuss?? Mungkin tampangku ketok ndeso banget kali ya makanya si Maya ketawa dan jelasin kalo air putih favorit disini itu yang ada ‘gas’ nya. Jadi kayak sprite tanpa rasa lime dan gula. Setelah ngobrol-ngobrol dikit, akhirnya kita memutuskan buat pergi tidur aja. Kasurku ama Maya di tingkat atas, kasur andin di sel sebelah. Kata maya, tidur senyaman mungkin soalnya keretanya bakal nyampe Lugansk besok pagi.

Beberapa kali aku kebangun di antara tengah malem dan pagi2 buta, lampu gerbong masih mati, tapi kereta berhenti, mungkin transit. Aku ngerasa gerah banget, tanpa mikir (iyalah orang masih belom sadar 100%) aku buka selapis bajuku. Bodo amat, di Eropa ini. Eh tapi masih pake baju daleman wol loh, gapapa deh paling ngga, ngga gerah2 amat. Aku lanjutin bobo.

Langit di luar udah terang. Ranjang si Maya udah kosong, berarti dia udah bangun dan turun. Abis Menuhin nyawa, aku juga ikut turun.

Aku: how long we will arrive at Lugansk?
Maya: in about two hours. You want coffee or tea?
Aku: coffee with milk please
Maya: *mesen ke ibu2

Abis itu kita ngopi2 sambil ngobrol. Si mbak ngajarin aku percakapan sederhana dalam bahasa Rusia. Ngga kerasa 2 jam berlalu, Maya bilang stasiun selanjutnya kita turun. Aku pun siap2in semua.

Lugansk, Ukraine. 2nd February, 2010.
11.00 GMT +2

Akhirnya kereta berhenti. Begitu aku turun, kayak ada orang se RT pada teriak: WELCOME!! Sambil bawa balon warna-warni. Setengah kaget sisanya seneng, semuanya meluk aku satu2. Terus kita disuruh motong dan makan roti sebagai tradisi. Suasana di Lugansk dingin, tapi salju mulai meleleh di mana2, bikin jalanan jadi becek dan licin. Perjalanan dari stasiun ke apartmen ngga terlalu jauh ternyata.

Apartemen—atau yang biasa disebut flat disini—kita cukup nyaman. Satu kamar tidur yang (katanya) khas ukraina banget dengan satu single bed dan satu sofa yang bisa dibentuk jadi double bed, satu kamar mandi, dan dapur. Kita pun menata dan barang2 sementara temen2 AIESEC belanja bahan2 makanan dan keperluan kita sehari2 di supermarket, aku aja masih sempet mandi.

Mereka pun balik, yang cewe2 masakin makan siang buat kita sementara yg lain ngobrol2 sama aku dan andin. Semuanya welcome dan ramah sekali. Begitu makanan jadi, mereka pun ninggalin kita dan mengucapkan selamat beristirahat.

Setelah makan, aku ngeliat ke luar jendela. Subhanallah, ini ya yang namanya winter. Hamparan putih sejauh mata memandang dan hawa yang menusuk tulang. Aku pun memutuskan buat main keluar di halaman dan menyentuh salju itu untuk pertama kalinya. Sekaligus mengambil beberapa foto.
Setelah perjalanan udara selama kurang lebih 22 jam dan perjalanan darat 16 jam. Badanku serasa remuk. Akhirnya kita memutuskan untuk tidur selepas matahari terbenam biar besok bisa sangat segar!
Setelah bagian ini, aku bakal nulis bagian-bagian selanjutnya dalam bentuk yang lebih jelas dan focus, dengan rentang waktu per minggu. So, see you in the next posting! :*