Pick one you like!

Saturday, April 3, 2010

Going Home (part 1): A Train Compartment Story (Kisah Kompartemen Kereta)

Ukraine railroad, 2-3 April 2010


Perjalananku dari Lugansk menuju Kiev, ditempuh pake kereta yang sama kayak perjalananku dari Kiev ke Lugansk (jayus). Bedanya, kali ini kita pilih gerbong kelas dua, yang ada kompartemen berisi 4 orang.


my corner in that compartment :)


Pertama kali berangkat dari stasiun Lugansk, selain aku dan Andin ada seorang cowok di kompartemen itu. Cowok itu tampak sedang minum dari botol yang dipegangnya dan mukanya lumayan merah, dgn kata lain, dia agak mabok. Karena dia agak mabok dan kami orang asing, jadi aku berusaha seminimal mungkin berkontak sama cowok itu. Nggak lama, dia keluar dari kompartemen dan pergi entah kemana. Aku pun foto-foto becandaan pake botolnya dia.


botol bir-nya Sasha x)


Dia kembali ke kompartemen begitu langit mulai agak gelap, bawa dua botol lain bermerek sama. Dia ngeliatin aku dan Andin.


Cowok : drug? eee...friends? (sambil nunjuk2 aku sama andin)

aku : yes, ah, da..da..

Cowok : aaah... Alexander..Sasha (ngulurin tangan)

aku : Dana, Andin

Sasha : blutuk..blukutuk...kutuk...Kiev?

aku : da, da.. Kiev

Sasha : aaahh...(nunjuk2 dirinya sendiri) Kiev, Kiev


terus ada mbak-mbak troli lewat dan nawarin minuman, Sasha nawarin kita. Aku pun minta air putih, aku pikir kita bakal beli sendiri, ternyata Sasha mau beliin, tapi nggak air putih, melainkan bir yang sama yg dia minum dari tadi. Alhasil kita pun 'harus' nglayanin ngobrol-ngobrol sama dia walopun pake bahasa tarzan.


Sekitar satu-dua jam kemudian, ada bapak-bapak masuk ke kompartemen kita. Dia ngenalin diri namanya Max, atau Maksim. syukurlah dia bisa bahasa inggris. jadi selama sisa perjalanan dia jadi penerjemah antara aku sama Sasha. Kita ngobrol ngalor ngidul, hari semakin larut sementara Sasha semakin mabuk dan Maksim semakin agak mabuk. Andin pergi tidur duluan di tempat tidurnya yang tergantung di atas tempat tidur Maksim, sementara kami bertiga lanjut ngobrol2 sambil makan semacem rajungan ato kepiting sungai (Javanese: yuyu). Sasha udah mabok banget sampe kelakuannya ga kekontrol (baca: peluk2 aku ndusel2, hiih), akhirnya disuruh naik tidur sama Maksim.


Pintu kompartemen dikunci, lampu dimatiin, kita semua siap2 tidur. Di tempat tidur atasku, Sasha ngomong-ngomong ga jelas pake bhs.rusia, yang kadang ditanggepin Maksim. Terus dari atas juga kayak kedengeran suara aneh kayak dia lagi ona*i sambil ngomong2 ga jelas pokoknya yang bisa aku tangkep ada kata-kata "max" dan "huy" -nya (huy = russian word for dick). Tiba-tiba perbincangan mereka semakin naik nadanya, Maksim mulai bentak-bentak. Aku merem aja pura-pura tidur. Nada omongan Sasha semakin kedengeran ngelecehin. Maksim berdiri dari tempat tidurnya di sebelah tempat tidurku, dia mukul-mukulin Sasha. Narik Sasha dari atas sampe jatoh ke lantai. Sumpah itu malam paling tegang yang pernah aku alamin. Aku takut banget, nggak berani gerak sedikit pun di tempatku. Sasha didorong keluar kompartemen sama Maksim, pintunya ditutup dan dikunci. Sasha gedor2 dan teriak2. Nggak lama petugas kereta dateng dan marah-marah sama mereka. Akhirnya Sasha masuk dan naek ke tempat tidurnya.


Butuh cukup lama untuk pulih dari shock, tapi akhirnya aku tertidur juga. Paginya, aku kebangun di waktu yang pas banget, pas keretanya udah deket Kiev. Aku pun cuci muka dll, dan sebelum balik ke kompartemen buat beberes tempat tidur, Maksim udah berdiri di depan pintu kompartemen dengan tas di tangan. Begitu aku selesai, aku sms salah satu staff KBRI di Kiev bilang kalo kita udah mau sampe Kiev. Sasha turun dan duduk di sebelahku, jidatnya benjol dan bibirnya agak sobek.


aku: kak? (how are you?)

Sasha: mmm, ok..


tiba-tiba dia ngasih sebatang coklat ke aku, sambil ngomong2 russian. liat aku kebingungan, Maksim noleh dan nerjemahin sama aku, kalo Sasha bilang itu tanda pertemanan dan permohonan maaf atas kejadian semalem.


Kereta pun berhenti. aku dan Andin segera turun dari kereta. aku mencari-cari Sasha dan Maksim, berharap mengucapkan selamat tinggal, tapi tampaknya mereka udah pergi duluan.


Hmm, ya, itulah kisah kompartemen kereta. Segala obrolan, tawa, teriakan, pelukan, hanyalasting selama para tokohnya berada di dalam kompartemen. Di dalam, kita seakrab seolah sahabat, tapi di luar, kita melangkah ke jalan masing-masing.


ps. aku nggak sempet foto sama Maksim ato Sasha :|

Friday, April 2, 2010

Week #8: See You Later

Ternyata bener juga ya, apa kata orang-orang sebelum aku yang pernah studi atau berkegiatan di luar negeri dalam jangka waktu menengah (non permanen). Perasaan kalo kita lagi 'bertugas' ke luar itu bagaikan roller coaster. Pertama kita naik pelan-pelan, muter-muter, terus jatoh drastis, abis itu naek lagi, turun lagi, muter lagi, baru kemudian lurus.

Seperti kalo menurut Rhinesmith, ada sepuluh tahap penyesuaian diri seseorang di lingkungan baru:

  1. Kecemasan pada tahap awal (karena akan menghadapi tempat tinggal baru)
  2. Kegembiraan yang meluap-luap (karena akan pergi)
  3. Culture shock tahap awal
  4. Penyesuaian yang dipaksakan (terhadap kebudayaan baru)
  5. Depresi - frustasi
  6. Menerima kebudayaan baru
  7. Kembali pada kecemasan (karena akan pulang kampung)
  8. Kembali pada kegembiraan (juga karena akan pulang kampung)
  9. Re-entry shock (kaget dan tidak berharap/membayangkan kebudayaan di negara asal)
  10. Perubahan diri akibat kombinasi dua budaya yang dialami

Well, di minggu ke-delapan ini rasanya aku lagi mengalami poin yang nomer 7 dan 8. Ya, di satu sisi aku merasa seneng banget soalnya sebentar lagi aku bakal bisa ketemu lagi sama orang-orang tersayang, bisa makan enak lagi, dll. Tapi di sisi lain aku juga ngerasa sedih dan cemas. Sedih karena aku bakal ninggalin tempat yang rasanya baru aja aku ngerasa betah, ninggalin temen2 dan murid2ku yang rasanya baru aja aku ngerasa sayang. Cemas karena aku bakal kembali ke kehidupan yang biasanya, tanpa tahu kapan aku bakal kembali ke sini lagi.

Perasaan itu timbul-tenggelam, saling silih berganti setiap saat. Di saat-saat yang harusnya bahagia, senang, dalam hatiku malah ada rasa cemas dan pingin nangis.

Contoh pertama: di kelas dari beberapa sekolah, murid-muridku ngadain surprise farewell party. Mereka bikinin pancake dan pie. Mereka pun kasih kita hadiah kenang-kenangan. Campur aduk rasanya

S.U.R.P.R.I.S.E

very nice pie :9

Contoh kedua: bahkan ada satu sekolah yang khusus menyiapkan satu hari untuk piknik bersama. Mereka menyiapkan kayu bakar untuk api unggun, sepanci ayam berbumbu untuk dipanggang, roti dan berbagai jus. Kami pergi ke sebuah hutan di pinggiran kota dengan sungai di dekatnya. Mengobrol dan bercanda, campur aduk rasanya

Contoh ketiga: Eva, pacarnya Anton, dan Yan ngajak aku dan Andin ke kamp.kuda. Kita menunggang kuda sampe ngasih makan kuda. Menikmati awal musim semi yang indah tanpa sempat melihat bunga-bunga bermekaran. Campur aduk rasanya

Contoh keempat: Closing Conference. Di hari terakhir kita ngajar dalam kontrak kita, seluruh siswa dari sekolah2 tempat aku ngajar berkumpul di sekolah #5 buat acara penutupan project World Without Borders. Semuanya ngasih kesan dan pesan, saling berkata 'jangan lupakan aku', dan berpelukan. Mereka ngasih kami masing2 secarik kertas berisi kesan dan pesan mereka tentang kami secara pribadi. Campur aduk rasanya

Contoh kelima: Untuk farewell party kita dari aiesec-ers, kita diajak ke night club. Itu adalah pertama kalinya dalam hidupku pergi ke night club. Kita pesen 2 botol wine, dan masing2 dari kita mengucapkan keinginan-keinginan tentang kebersamaan ini buat ke depannya sebelum kemudian kita toast. Campur aduk rasanya

dan perasaan itu berada pada puncaknya di hari kepergian kita dari Lugansk. Hari jumat itu teman2 aiesecers mengantar kami ke stasiun untuk menuju Kiev. Beberapa murid juga ikut mengantar. Sebut saja Ela, Lena, Lisa, dan Maksim. Sampai di stasiun kita bertemu lebih banyak aiesecers lainnya. Setelah menaruh barang2 di kompartemen, aku dan Andin keluar lagi dari gerbong, memeluk mereka satu persatu, menatap mata mereka secara langsung untuk yang terakhir (sebelum kepulangan), bertukar kenang-kenangan, sebisa mungkin memanfaatkan waktu yang sedikit sebelum peluit tanda kereta akan berangkat dibunyikan.

Tepat pukul 16.00 peluit berbunyi. Aku segera naik ke kereta dan melihat ke luar jendela. Mereka semua tersenyum sambil melambaikan tangan. Saat kereta mulai bergerak, beberapa dari mereka, Sergei, Maksim, Ela dan Lisa berlari mengikuti kereta. dan pada saat kereta berada di kecepatan maksimal, hal terakhir yang aku lihat adalah senyuman Maksim.

Aku pun duduk di kompartemenku dan terdiam sejenak. Segera kuketik sesuatu di layar hapeku:

" this is not goodbye guys, this is see you later "

Options > Add recipient > group > Ukraine Guys > Mark all > Send

Sunday, March 21, 2010

Week #7: Priceless

Minggu ke-tujuh, 15 - 21 Maret 2010

Ngga kerasa udah hampir tujuh minggu aku berada di Ukraina. Semakin hari aku semakin terbiasa sama kehidupan di sini. Aku sudah terbiasa ngga makan makanan dengan rasa yang menusuk tajam, aku sudah terbiasa dengan suhu yang ngga pernah bikin kipas-kipas, aku sudah hafal nomor-nomor bis yang harus aku naikin kalo mau pergi2, aku sudah hafal nama-nama umum orang-orang di sini, ya,: Alex (Sasha), Ivan (Vanya), Vladimir, Zhenya, Andrey, Anatoly, Yuri, Pavel, Sergey, Nastya, Anya, Anton, Maksim, Lena, Liara, Katya, Marina, Karina, and sooo on, aku pun sudah tau harus ngomong apa di supermarket atau di toko fastfood, bahkan aku bisa ngucapinnya dengan aksen asli!

Hmm, aku udah kebiasa juga ngeliatin cowo2 dan cewe2 berambut pirang, emas, coklat, merah, dengan kulit putih dan bermata hazel, hijau, ataupun biru. Aku udah terbiasa hidup di tengah2 mereka yang dulu cuma bisa aku liat di film-film sejarah tentang Semitism, perang dunia, dan sejenisnya. Aku terbiasa dengan cara mereka memberi salam saat bertemu dan berpisah, terbiasa dengan pemandangan yang bagi orang-orang timur dianggap vulgar jika dilakukan di depan umum.


Semua itu aku sadari saat sepulangnya aku dari sekolah suatu hari. Waktu itu Rita yang nemenin.


Rita: ngga kerasa udah tinggal seminggu lagi ya proyek ini berakhir?

Aku: iya..kamu seneng?
Rita: ya seneng, soalnya semua kegilaan ini bakal berakhir. Tapi juga sedih, soalnya kalian bakal pulang abis itu kan?
Aku: iya..sama.. aku juga senang sekaligus sedih..
Rita: kamu seneng ngga selama di sini benernya?
Aku: kamu bercanda? Ya jelas seneng lah…aku dapet banyak hal berharga di sini, mungkin harga tiket pesawat itu sudah kelewat murah untuk dapetin semua ini. Aku dapet banyak pelajaran di sini..
Rita: dan teman-teman..
Aku: dan teman teman..

Aku tersenyum. Ya, aku ngga hanya mengajar di sini, tapi juga belajar. Aku ngga hanya memberi di sini, tapi juga menerima. Aku berbagi.

Aku jadi tahu sedikit-sedikit bahasa Rusia dan Ukraina. Aku jadi tahu budaya tradisional maupun sosialnya. Aku jadi terbiasa dengan aksen khas ini. Aku jadi tahu lebih banyak tentang sejarah Soviet. Aku tahu bagaimana susahnya jadi guru. Aku tahu gimana caranya berkomunikasi dengan orang-orang dari bangsa, budaya, dan usia yang berbeda. Aku jadi tahu bagaimana caranya menjadi teman bagi murid-muridku. Bagaimana menyenangkan mereka bahkan di saat materi yang membosankan.

Bagaimana tetap tersenyum di depan mereka sementara hatiku menangis. Bagaimana tetap sabar dan tertawa saat mereka bandel dan malas. Bagaimana mengerti perasaan, pendapat, dan kepentingan orang lain.

Sampai dengan hal-hal kecil. Aku tahu bagaimana tinggal bersama seseorang yang berbeda jenis dan berbeda karakter. Bagaimana berbagi makanan (kayak di pengungsian aja), berbagi tugas. Bagaimana memasak nasi, membuat makanan dengan rasa sedekat mungkin dengan selera yang merindu masakan rumah. Bagaimana menjadi mandiri dan kuat.

Juga sampai ke hal-hal yang pertama kali dalam hidup kulakukan. Seperti minum alcohol—wine, vodka, bir—semata-mata demi menghangatkan badan dan social respect. Pergi ke night club dan menari di bawah lampu yang gemerlap.

Dan jujur, hal yang paling membuatku betah di sini adalah kebahagiaan yang aku rasakan saat bersama murid-muridku. Rasa bahagia saat melihat mata mereka yang polos dan ingin tahu, walaupun kadang beberapa sangat bandel.

n.a.k.a.l


Seperti pada suatu hari, Sasha dan aku berbincang-bincang ringan sebelum materi dimulai.

Sasha: Dana, Dan.. are you still virgin?
Aku: *keselek* yes of course! Why did you ask that?
Sasha: Are you kidding? Nooo, you can’t be a virgin!
Aku: Why??
Sasha: because you’re 18! You musn’t be a virgin! I’m 17 and I’m not virgin anymore.
Aku: *keselek lagi* really?!
Sasha: yeaaah, and Andrey too, and David too! But Zhenya is still virgin, huahaahahaa
David: What? Is it true you’re still virgin?
Aku: yep!
David: Why?
Aku: Because it’s our norm to not have sex before marriage, in our country, in our tradition, and in our religion…Sasha, what are you doing?!!
Sasha: *bisik-bisik sama Andin, terdapat kata2 ‘Dana’ dan ‘cannot’ dan ‘virgin’.. well, people here usually lose their virginity when they're 16!
Aku: ...

Untunglah abis itu saatnya materi dimulai, sehingga aku ngga akan keselek lebih banyak lagi.
Yah, itulah bandel-bandel khas mereka selain meminta diajarkan bagaimana mengucapkan ‘F*ck you’ dalam bahasa Indonesia.

McD time!


Rasa bahagia saat merasakan mereka di sekelilingku, tertawa bersama, berjalan menyusuri jalanan yang basah, bersalju, ataupun licin. Berbagi hari di bawah naungan suhu yang menggigit dan angin yang menusuk, jika beruntung terkadang di bawah sinar hangat matahari.

:))


Rasa bahagia saat mereka mengerti apa yang aku jelaskan, dan aku pun mengerti apa yang mereka utarakan. Rasa bahagia saat mereka terkadang memamerkan hasil karyanya, memamerkan nilai ujian, memberikanku souvenir kecil. Rasa bahagia saat mereka tertawa mendengar humor-humor yang terkadang kuselipkan dalam pelajaran. Saat mereka terkagum melihat informasi yang menarik. Saat mereka bersorak karena memenangkan game.

Semua itu lebih berharga bagiku dari jumlah uang yang dibayarkan demi tiket pesawat dll. Ya ya mungkin memang orang tuaku yang membayar semua itu, tapi merekapun mengerti, bahwa itu adalah investasi. Investasi demi guru yang terbaik dalam hidup: Priceless Experience.

‘Cost and worth are really different things…’

Sunday, March 14, 2010

Week #6: I LOVE LUGANSK

Minggu ke-enam, 8-14 Maret 2010

Mau tau kenapa posting ini aku kasih judul I LOVE LUGANSK ??

Soalnya…hmm…hm… ngga tau kenapa, di kota ini begitu banyak kegembiraan yang aku rasain sampe sekarang. Begitu banyak cinta, banyak kemudahan yang aku dapet. Contohnya, pas hari senin, tanggal 8. Hari itu diperingati sbg hari wanita sedunia atau International Women’s day, dan di Ukraina dirayakan sbg hari libur nasional. Hari itu para wanita, para ibu, para gadis merayakan bersama orang(-orang) terkasihnya. Hari itu, aku merayakannya bersama Anna :)

with Anna at Melange Cafe


Pagi2 Anna udah dateng ke flat dan bawain aku hadiah sekotak Truffle dan lipgloss. Terus kita keluar ke café bernama Melange buat having brunch (breakfast and lunch). Kita pesen makanan yg sama, omelet isi ayam dan mentega dan masing-masing secangkir kopi yang berbeda. Aku pesen kopi saus kelapa-kacang dan anna pesen kopi-apa-gitu-namanya-aku-lupa-pake-bahasa-rusia-tuh yang sepertinya juga bikin ngiler sambil garuk2 tanah. Sambil makan dan minum, kita saling berbagi cerita. Mulai pendidikan, masa kecil, keluarga, ngomongin Roy, sampai masalah cinta. Di tengah kesendirianku yang jauh dari keluarga, teman, dan jomblo (halah),I felt alive beside her. Rasanya seneng punya temen yang sehati…
abis itu kita jalan2 muter2 pusat kota sambil nyari anting buat aku. Dan pas udah ketemu yang cocok, aku minta dia buat pilihin warnanya :)

my new earrings


Kharkiv Railway Station


alasan kedua kenapa aku cinta kota ini adalah, kota ini sudah serasa rumah. Kenapa? Gini ceritanya:
Akhir minggu ini aku dan Andin pergi ke Kharkiv buat ngunjungin temen kita si Nia yang juga di proyek WWB, sekalian jalan2. Kita berangkat pake kereta hari jumat jam 11 malem. Keretanya nyaman sekali, yah sekelas Sancaka eksekutif lah, lebih bagus dikit. Nyampe di Kharkiv jam setengah 6 pagi hari sabtu. Sambil nungguin dijemput Nia, kita ke McD buat sarapan sekalian WiFi-an. Ngga lama setelah Nia dateng, kita cabut menuju hostelnya dia. Kita menuju stasiun lagi buat naek Metro—kereta bawah tanah. Selesai beli token, kita jalan menuju peron. Bodohnya kita berjalan sambil ngomong bhs.Indo keras buanget dengan terlalu dekat ama polisi…dan alhasil, kita di stop.

Polisi: blukutuk-blup-blukutup (pake bhs rusia ngga tau artinya)
Nia: Ya Ne Panimayo Po Russki (arti: gue ngga paham bhs rusia)
Polisi: bluk-blupukup-paspor, PASPOR!

Akhirnya kita bertiga nunjukkin paspor kita, dan…sialnya, Andin lupa bawa kartu imigrasinya. Akhirnya kita dibawa ke kantor. Aku dan Nia disuruh duduk sementara Andin dimasukin ke kamar sempit bersama salah satu polisi. Aku dan Nia ditanya2in macem2, tapi apalah daya, kita ngga bisa bahasa Rusia dan si polishit nya ngga bisa bahasa Inggris. Biar cepet, si Nia nunjukkin invitation letternya yang (untunglah) dalam bahasa Ukraina. Si polishit angguk-angguk dan (sepertinya) bilang, aku dan Nia boleh keluar dan Andin bakal tetep disini. Andin dan polishit laennya keluar dari kamar, gue ngga tau lah mereka abis ngapain aja, yang jelas andin terlihat buru2 nutup resletingnya. Resleting tas maksudnya… :DD
Nia dan aku ngga mau ninggalin Andin disitu, akhirnya kita pake jalan pintas aja..

Nia: how much money do you want?
Polishit: iufghjvbiulhghgkjn….????
Aku: grivnas grivnas, skolko grivnas??
Polishit: *nulis di kertas: 340 grn*
Aku dan Nia: NOOOOO…. *coret 340 - 50*
Polishit: *tambahin satu nol dibelakang 50*
Nia: *coret satu nol*
Polishit: *tambahin lambang € di depan 50*
Nia: NOOO! *coret €*
Polishits: *ketawa ngakak* HUAHAHAHAHA…… horosho…

Akhirnya kita deal dengan 50 grn atau setara dgn Rp.60.000

Sesudah bayar, si polishit bukain pintu dan aku keluar duluan. Nyampe di luar, aku masukin pasporku ke tas. Aku nunggu sekian menit, kok anak dua ngga keluar2? Aku balik ke dalem. Somehow I don’t know terjadi pertarungan sengit di dalem: Nia si gadis kecil memperebutkan dengan saling tarik-menarik, sesuatu dengan seekor polisi tinggi besar. Sepertinya itu kamera. Si polishit bersikeras ngembaliin tuh duit 50 grn tapi nahan kameranya Andin. Aku ngga tau apa yang terjadi, aku bantuin si Nia mendapatkan haknya kembali. Setelah itu si Nia minta maaf bolak balik, ngasihin lagi tuh duit 50, dan kita dibebasin.

Sampe di luar, aku nanya si Nia kenapa bisa sampe berantem kayak gitu. Ternyata si Nia berniat motret mereka buat dilaporin ke KBRI, tapi baru Nia sempet ngomong ‘kamera’ mereka langsung bertindak. Hff, ya iyalah neng, kalo sampe mereka mau difoto itu namanya mereka bener2 goblok.


worth the dropping x)


Kita pun bebas dan menikmati jalanan dan pemandangan kota Kharkiv. Setelah mampir bentar ke hostel Nia, kita keluar lagi buat presentasi di Indonesian Speaking Club di sebuah institute khusus International Relations and Foreign Affair Studies. Ternyata ada juga segelintir orang yang belajar bhs.Indo disini.
Kita pun berniat makan eskrim di tempat yang kata Nia mantep banget eskrimnya. Di tengah perjalanan ke sana, kita mampir bentar buat foto2 ato sekedar liat2. Pas kita lagi asik foto2, tiba2 ada 3 orang cowo dateng nyamperin kita.

Cowo A: blukutuk-blukkuuk-blup
Nia: Ya ne panimayo po russki
Cowo A: aah, English?
Aku: Da.. (ya)
Cowo B: bledth (misuh).. my…name…is…Andrei
Aku: hi Andrei…
Andrei: money…money…five dollars
Nia: net dollar (ngga ada dolar)
Andrei: bl*dth (misuh lagi) my…name…is…gangster…give money…
Aku: oh Andrei I’m sorry…can u go home now? You’re mother is waiting…

Dan kita bertiga pergi meninggalkan ketiga preman kelas plankton tsb.
Huff…oalaaah leee tholeee, kalo mau malak tu ya mbok yg niat toh, belajar karate dulu, belajar nembak dulu, yg utama, belajar bahasa inggris dulu…AHAHAHAHH

Yah, meskipun (untunglah) Cuma preman kelas plankton., tapi tetep aja sepertinya Kharkiv menyambut kami dengan cara yang sangat-sangat aneh. Pagi diawali dengan polishit, dan ditutup dengan gangster.

Terus kepada siapa sebenarnya kita musti minta tolong?? Kepada Tuhan YME, yah, seratus anak2…

three of us!


Itulah dia alasan2 kenapa aku cinta Lugansk dan segala isinya (weddehh). Meskipun kita kayak hampir tiap hari ngelewatin kantor polisi, ngga pernah tuh di stop dan dimangsa. Meskipun kita hampir tiap hari pulang saat hari udah gelap dan lewat tempat sepi, ngga pernah tuh dipalakin preman. Dan meskipun kota ini nggak sebagus dan sebesar Kharkiv, aku merasa lebih ‘hidup’ disini berkat orang2 baik di sekelilingku :)

i ♥ lugansk, it feels almost like home :)

Sunday, March 7, 2010

Week #5: All About Roy!

Minggu ke-lima, 1-7 Maret 2010

Maret, seharusnya bulan ini musim semi tiba, dan resminya, mulai tanggal 1. Tapi kenyataannya masih aja suhu dibawah nol terus dan jalanan masih licin oleh es. Rekorku sampe saat ini jatuh 4 kali. Yak bagus, I’m stupid and reckless.

Sebulan sudah aku berpetualang di sini. Ngajar, ke tempat2 unik: museum, teater (nonton Romeo and Juliet), billiard, bowling, dll., ketemu temen2 yg baik, murid2 yang nakal, dan sebagainya. Rasanya waktu berjalan cepet banget.

Suatu hari setelah pulang dari ngajar, kayak biasa, pada giliran make modem. Andin-lah yang pertama. Tapi setelah beberapa menit tiba2 Roy request buat make modemnya 5 menit aja. Ya udah akhirnya dikasih sama Andin. 5 menit berlalu, 10 menit…tapi dia masih masang muka serius di depan laptopnya, sambil kadang2 misuh2 ngga jelas gitu pake bahasa cina. Andin yang sebenernnya sebelom itu lagi chat ama cewenya, terus kepotong sebentar gara2 modem dipinjem Roy (yang katanya cuma) 5 menit, mulai protes. Tapi si koko request lagi for another 5 minutes. Lima menit berlalu, andin berkicau lagi, kali ini sedikit ofensif. Si koko langsung berdiri dan bilang: “okay, I will go to café!” sambil ngelempar modemnya dan keluar kamar membanting pintu.

Aku ama andin pandang-pandangan. Dan kita yang emang udah maklum ama sifat si koko pun melanjutkan kesibukan masing2.

Hari semakin larut, jam 00.00 si koko belum juga pulang. Sampai besoknya juga ngga pulang-pulang. Padahal rencananya hari itu kita mau ke Donetsk sama Sasha, muridku.

Siang2, Sasha telpon aku.
Aku: hi sasch..
Sasha: hi Dana, is Roy with you now?
Aku: no, he left our place since last night and doesn’t come back. I don’t even know where he is right now..
Sasha: ooh, I just want to say that I can’t go to Donetsk today because my mom is very angry with me..
Aku: ooh, it’s bad.. why?
Sasha: because I didn’t do what she’s said. I didn’t clean the house, only my room.. I have to say sorry to Roy myself. Because I’m real man..
Aku: okay sasch, I understand. But Roy’s not here now..
Sasha: ok, so please call me when Roy’s back ok?
Aku: horosho.. bye sasha..

Beberapa jam kemudian, sasha telpon lagi..

Sasha: Dana, roy’s just called me and say that he is sick..
Aku: oh really?
Sasha: yes… he said he was drunk last night by a lot of Vodka..

Perfect. Gue khawatir semaleman ternyata dia malah mabok2an..

***

Besok paginya baru dia pulang. Ternyata dia bukan marah ama Andin, tapi marah ama cewenya gara2 cewenya saat ini juga dalam perjalanan menuju Kiev..

Eh, eh…DALAM PERJALANAN MENUJU KIEV??? WHAT THE…

Ya, cewenya datang menyusul pangerannya dengan-alasan-yang-tidak-jelas-dan-tidak-dapat-dimengerti, dan besok pagi dia sudah akan berada di Lugansk.

Ternyata lagi, Roy harus pulang akhir minggu ini. Ya, HARUS pulang, soalnya ada ujian di kampusnya. Temen2 AIESEC bener2 stres dibuatnya. 1. Dia pulang jauh sebelum proyek berakhir, udah gitu 2. Dia masih punya muka buat minta sertifikat, dan 3. Dia ‘bawa’ orang lain, yang bukan dari AIESEC, dan dengan -alasan-yang-tidak-jelas-dan-tidak-dapat-dimengerti.

Besok paginya, pasha nganterin Roy jemput cewenya di stasiun. Ngga lama mereka pun nyampe di flat, ternyata si cece lumayan cantik, yah kaya yang biasa gue liat di GM ato PTC gitu lah, she seems a nice girl. Abis itu kita sarapan bareng di Smecna Hata, sesuai request Roy, restoran ukraina.

***

Malam terakhir si koko dan cece di Lugansk, mereka pengen nonton orchestra, dan aku pun juga tertarik. Akhirnya kita pergi ke filarmoni bareng2 berlima: koko, cece, aku, andin, dan pasha bunin.



inside


Orchestranya keren banget, sesuai ama gedungnya yang wah.. disana kita ketemu Maya, Pasha bondarenko, sama Artem. Sepulangnya dari sana, kita rencana mau buat bye2 party kecil2an buat Roy, yah makan2 bareng di manaa gitu lah. Roy bilang oke, tapi dia mau ambil sesuatu dulu di flat. Akhirnya dia dan cewenya ke flat dan sisanya menunggu di bus stop.

Lima menit, sepuluh menit, dua puluh menit mereka ngga balik2. Si Pasha Bondarenko sempet bercanda kalo mereka mungkin lagi menikmati waktu privat berdua di flat. Begitu Pasha selesai mingkem, dari jauh keliatan si cece turun tangga dan jatoh, terus lari ke ujung jalan. Si koko ngejar dari belakang sambil teriak2. Andin sama Pasha Bunin bergerak nyamperin. Dari jauh kita kedengeran suara teriak2. Tapi kita ngga keliatan apa yang terjadi soalnya mereka jauh banget. Mungkin hampir setengah jam baru Andin dan pasha balik ke kita sambil bawa kunci. Andin bilang barusan dia ngeliat termehek-mehek secara nyata dan versi Ukraina.

Jadi masalah pemicu termehek2 itu sampe sekarang pun masih menjadi misteri, tapi yang jelas, mereka teriak2 di jalan sampe menarik perhatian banyak orang, plus extra tamparan di pipi si cewe. Kita semua ngga habis pikir, secara mereka itu orang asing di sini, si cewe tu udah jauh-jauh dateng ke sini cuman buat berantem? Oh, such a waste banget deh -.-

Akhirnya kita ber-enam pergi ke Chinese Family restoran. Ya, we held Roy’s bye2 party without Roy.

***

Besoknya adalah hari kepulangan Roy. Sore itu kita semua nganterin ke stasiun kereta. Buanyak banget AIESECers yg dateng. Gue jadi curiga, ini mereka emang niat mau nganterin apa gara2 penasaran sama si ‘Phenomenal Chinese Guy’? karena yang aku tau informasi beredar sangat cepat di AIESEC sini, ya, SANGAT CEPAT.’

ini loh si cece


Roy's leaving


Setelah sesi mengharukan, tibalah saatnya kereta harus bergerak pelan menuju Kiev. Selamat jalan my Chinese friend, semoga kau tenang di sana… DI CHINA MAKSUDNYA! AHAHAHAHHAHA…

Well, itulah akhir hari2 ku bersama temanku yang satu itu. Senang, susah, marah, ketawa, bingung, lega kami semua dibuatnya. Tapi kalo ngga ada kamu, pasti hari2ku bakal terasa kayak capcay tanpa isi (duh jadi pengen haha) We'll miss u boy!

Sunday, February 28, 2010

Week #3 and #4: Weeks of Understanding

Minggu ketiga dan keempat: 15 Februari 2010 - 28 Februari 2010

Sudah hampir sebulan aku berada di negeri orang, negeri yang ngga terima beda Negara, beda benua! Ngga terima nyebrang daratan, nyebrang lautan! (yaiyalah secara Indonesia Negara kepulauan, man)

Sudah hampir sebulan aku ngga nonton yang namanya liputan 6, silet, KISS, termehek-mehek, bukan empat mata, bioskop trans tv…

Sudah hampir sebulan aku ngga makan rawon, sate, rujak cingur, pempek, gudeg, tahu tek, mi pangsit, bahkan mungkin ngga makan beras (gue ngga—belom bisa masak beras tanpa rice cooker -.-)

Tapi yang paling kerasa,
Sudah hampir sebulan aku ngga ketemu orang tuaku, adekku, sodara2ku, sahabat2ku, temen2ku, pacar2ku (loh nduwe tah? Siji wae ngga ono kok ngomong pacar-PACAR -.-). Rasanya tiap malem pengen nangis aja..

Tapi, ngapain juga udah jauh2 kesini kok malah cuman nangis? Kesini tuh bukan cuman ngajar non! Tapi juga belajar, belajar apapun: bahasa lain, budaya lain, belajar mandiri, belajar survive, belajar sabar, belajar ngertiin orang *Dana yang menasehati dirinya sendiri, bagus deh.

Ya, belajar ngertiin orang. Di sini aku tinggal bareng 2 cowo yang—jelas—kebiasaan dan sifatnya beda. Andin: orangnya manut, helpful, dikit2 sungkan, ngga ada kata kenyang di kamusnya, kalo ngelawak selalu hampir agak sedikit lucu, kalo kentut ngga dipencet tombol MUTE-nya, dll. Sementara Roy: orangnya ceria, talkative, ngga punya sungkan, tiap pagi selalu nyetel lagu2-dari-negaranya-dengan-volume-yg-tidak-bersahabat, kalo pagi sarapannya dikit tapi begitu malem empat piring pun masih kurang, agak suka seenaknya sendiri soalnya kebiasa jadi anak tunggal.

Nah, sifat yang terakhir ini sempet bikin percikan di antara kita (ceilah). Gini ceritanya:
Jadi kita bertiga itu dapet jatah internet 170 MB per hari dengan satu modem. Untuk nyari bahan ngajar sama buat chatting pake IM itu udah cukup banget lah. Dari awal kita udah sepakat ngatur jam2 make nya juga. Nah, pada suatu hari, sepulang dari ngajar, Andin minta jatah make duluan. Beberapa jam berlalu, gentian Roy yang make. Oke, aku ngalah, aku bakal make modemnya besok paginya. Aku pun pergi tidur.

Malam itu lumayan dingin. Aku kebangun beberapa kali gara2 kedinginan. Pas aku kebangun itu samar2 aku kedengaran suara dari arah dapur. Suara2 orang ngomong pake bahasa yang aku ngga tau. Namanya juga ‘ngelilir’ ngga jelas lah pokoknya. Beberapa kali kebangun itu aku denger suara2 itu terus.
Paginya aku bangun, dan pas masih setengah sadar, aku liat si koko masuk dari arah dapur sambil bawa Mac-nya, dan langsung mblengsek molor di kasur. Aku pergi ke dapur buat masak air sambil bawa laptop dan menikmati giliranku ber-internet ria. Aku klik tombol ‘connect’. Tapi ngga kayak biasanya, lama banget si modem baru bisa ter-autentikasi. Aku buka salah satu browser dan aku masukkin alamat web langgananku—haha, ya, facebook. Eh, tapi tiba2 keluar kayak sehalaman ‘WORO-WORO’ dalam bahasa prancis atau “ACHTUNG’ dalam bahasa maluku, ada tulisan ‘увага’ atau bacanya ‘uvaga’ yang artinya ‘perhatian’. Sisanya semua tulisan bahasa kraus-kraus dalam huruf Cyrillic yang meskipun aku isa ngeja dikit2, AKU.NGGAK.NGERTI.ARTINYA. akhirnya aku telpon eva, aku coba bacain itu tulisan ke dia, dan katanya, itu berarti: PULSA DI MODEM HABIS…

…WHATHELL?! Perasaan baru kemaren, itu modem diisi pulsanya dan itu jatah untuk sebulan, tapi habis dalam waktu semalam??

Jadi kalo disini itu gini sistemnya: kita deposit untuk modem, 2 grivnas (Rp.2500) per hari untuk 170 MB, jadi sebulan bisa deposit 60 grivnas. Tapi kalo udah lewat 170MB, sisa pulsa bakal keambil kelipatan 10 grivnas untuk tiap kelipatan 10 MB. Jadi kalo misalnya sehari habisnya 200 MB, pulsa yg kepotong ya 32 grivnas. Nah ini 60 grivnas habis kan berarti telah dipakai kurang lebih 220 MB dalam waktu semalam!!
Andin bangun dan denger aku ngobrol di telpon sama Eva, dan dia lapor kalo semalem dia juga bangun buat pipis dan ngeliat si koko di dapur lagi streaming video call. OH, YA SEKARANG JELAS KALO BEGITU. Aku pun jelasin sama Eva. Di tengah2 pembicaraan, si koko nongol ke dapur mungkin kedengeran suaraku. Aku masih ngomong ama Eva sementara dia mulai melancarkan kata2 pembelaannya dia.

Begitu aku selese telpon…

Roy: ngapain kamu ngadu2 ke mbaknya kayak gitu?

Aku: loh, aku cuman bilang kalo internetnya habis kok, terus dia nanya kenapa yaudah aku jelasin..

Roy: semalem tu aku ada masalah sama mantanku, makanya kita harus video call, blab la blaa.. ini cuman masalah kecil aku ngga mau cuman gara2 ini kita jadi berantem kayak gini, aku marah sekarang. Ini cuma perkara modem, aku bisa beliin pulsanya, aku punya duit kok! Berapa sih??!

Aku: aku ngga masalahin duit, aku juga punya kalo cuman duit! Ini masalahnya tentang berbagi.
Meskipun kamu teriak2 kamu punya duit sekarang tapi mana? Internetnya gak balik kan? Untung ini aku ngga butuh2 bgt, nah kalo aku pas butuh bgt gimana?

Yah begitulah, anak tunggal dalam keluarga, kebiasa dimanja, kebiasa apa2 tersedia, kebiasa semuanya buat dia, ngga biasa berbagi.

Masalah kedua, waktu malem ngerayain Men’s Day.
Apa itu Men’s Day? Men’s Day itu Hari Pria (ya kucing gue juga tau kalo gitu doang). Sebenarnya itu perayaan buat pria yang berangkat wajib militer demi melindungi bangsa dan Negara, tapi karena sekarang udah ngga ada lagi yg namanya wajib militer, jadilah itu hari semua pria.
Pada awalnya, Pasha janjiin Andin dan Roy buat keluar bareng pas malem perayaan itu, mungkin aja ke night club. Nah, waktu itu aku udah siap2 ditinggal sendirian di flat. Eh tapi begitu Pasha dateng jemput di flat, aku diajakin juga. Entah emang karena dia pengen aku ikut ato karena dia kesian ngeliat cewe cantik lemah gemulai bakal ditinggal sendirian di flat di malam yg dingin itu :p. Akhirnya jadilah kita keluar berempat. Ternyata eh ternyata, Sergey udah nungguin di tengah perjalanan.

tuh gede kan mejanya?


Sepanjang perjalanan, Roy excited banget tentang night club dan night club. Tapi Sergey bilang, kalo mau ke night club, dia ngga bakal ikut soalnya ngga punya uang (ya, orang sini kalo ngomong apa2 frontal bgt, ngga atek gengsi2an barang). So, kita ngga jadi ke night club, kita mutusin buat maen billiard di Kino. Kita pun maen billiard Rusia: meja lebih lebar dengan lobang lebih kecil dari billiard Amerika= lebih susah. Di tengah2 kita maen, salah satu AIESECer cowo dateng lagi, namanya Zhenya ato biasa dipanggil Kabal (ngga tau kenapa). Cowo yg manis dan ramah, ngajarin aku maen billiard, ngga kayak Pasha, malah menjerumuskan -.-

gaya banget lah gue


Selesai maen billiard, kita jalan lagi, bermaksud nyari tempat makan. Kita pun ke Ravenna, resto pizza deket stadion. Kita pesen dua pizza gede masing2 6 slices untuk 6 orang. Jadi per orang dapet 2 slices. Ya jelas lah, 2 slices pizza tipis sama sekali bukan makan malam bagi Roy, baginya itu cuman snack. Dia pun request buat dipesenin makanan laen lagi, tapi Kabal dan Pasha bilang ngga usah soalnya mereka bakal masakin sesuatu buat kita di flat nanti.

Kita pun pulang, Sergey berpisah jalan ama kita di center, kita pun balik berempat. Sampe di flat, ternyata udah malem banget, jadi si dua cowo Ukraina itu (eh satu ding, satunya Rusia) ngga jadi masakin kita dan langsung cabut abis numpang pipis.

Begitu mereka berdua pulang, si koko langsung buka laptopnya dan nggak-tau-ngapain-tanpa-suara-sama-sekali. Aku yang capek langsung siap2 buat tidur. Kita bertiga ber-autis dalam keheningan. Tiba2 roy yang (mungkin) udah ngga tahan langsung nyeletuk: “apaan tuh tadi? Katanya perayaan? Perayaan apa? Kita ngga kayak ngerayain apa2 tadi! Cuman jalan, jalan, dan jalan terus, capek iya, seneng ngga dapet.”

Aku dan Andin cuman diem, maklum lah 2 kali kemauannya ngga diturutin malam ini, aku bisa paham kenapa dia uring2an. Sebelum tidur, aku nyeletuk juga: “hmm, iya capek sih, tapi kapan lagi kita bisa maen billiard Rusia kalo ngga tadi sama mereka. Kamu juga seneng kan tadi pas maen?” dan aku langsung ngorok (ngga ding).

Yah tapi gimana pun, aku harus bisa maklum, kalo pengen bisa dimaklumin. Toh kita masih punya kurang lebih 6 minggu buat berangkat ngajar sama2, jalan2 sama2, makan sama2, tidur sama2 (eh maksudnya sama2 waktunya), dan aku bisa jadi semakin dewasa juga dalam memandang suatu masalah, Alhamdulillah deh ;)

Sunday, February 14, 2010

Week #2: Cultural Week!

Minggu kedua, 8 Februari 2010 – 14 Februari 2010

Sebelum aku certain minggu kedua ini, aku jelasin dulu sebenernya aku ini kok ngapain sih jauh2 ke Ukraina?? Jadi gini, ada sebuah organisasi pemuda Internasional, namanya AIESEC. AIESEC ini menurut sejarahnya, awalnya adalah sebuah organisasi para generasi muda yang ingin memperbaiki dunia pasca perang dunia, untuk mewujudkan persahabatan antar Negara-negara di dunia. Nah organisasi ini punya (salah satu) program namanya Exchange Program bagi para pemuda untuk menjalani internship—atau kerja magang, dan saya mengikuti program tersebut. Proyek yg saya kerjakan adalah sebuah proyek social working bertajuk World Without Borders, atau dalam bahasa Indonesia, Dunia Tanpa Batas. Sesuai dengan namanya, proyek ini bertujuan untuk ‘menerobos’ seluruh batas-batas atau kotak-kotak antar negara2 di dunia—secara pemikiran. Tugasku memberikan presentasi2 dan ‘kuliah’ untuk anak2 usia SMP-SMA, dalam bahasa Inggris—bahasa internasional, jadi secara tidak langsung, aku juga mengajarkan bahasa Inggris kepada mereka.

Sebenernya, dalam proyek ini, ada sekitar 6 orang, tapi entah kenapa, pada akhirnya hanya ada tiga orang. Dua dari Indonesia, dan satu dari China. Nah, si mas2 dari China ini baru dateng di minggu kedua. Dia dateng malem2 dari stasiun dijemput sama Eva dan pacarnya—Anthon. Ketemu si koko ngga bikin aku kaget atau excited yg berlebihan, kaya yg biasanya terjadi kalo aku ketemu orang asing lainnya, abis di Indo tuh aku bisa ketemu orang macam dia kayak tiap hari, apalagi rumahku deket Galaxy Mall x)


it's Roy :D
Namanya Roy, mahasiswa tingkat 3 dari Beijing. Begitu unpack, dia keluarin sebagian isi tasnya: Macbook Air, iPod Touch, iPod Nano…buset dah ni orang sebenernya mahasiswa apa pedagang apel sih? -.-

***

Suasana kelas sedikit berubah berkat kedatangan si koko satu ini. Ya, pembawaannya yang hiperaktif dan ngga kenal sungkan bikin murid2 mencair dan menganggap kami bertiga sebagai teman—bukan guru. Beberapa murid bahkan mulai berani telfon dan ngajak jalan bareng, well, a good progress :)
Hari sabtu, diadain Welcome Party buat kami bertiga. Sepulang dari sekolah, Dima membawa kami ke rumah Rita, si OCP cantik. Di sanalah welcome partynya. Kita ketemu ama cukup banyak AIESECers: Maya—si Presiden yang jemput aku di Kiev, Pasha Bunin, Pasha Bondarenko, Lena, Nastya, Kate, Ira, Anna, Marina, Yuri, dan Yuri Gorbachev. Kita pun makan, minum, maen ‘Bitches-bitches’, dance AIESEC, nonton video dll.

Welcome Party


Hari semakin malam tapi kita semua masih pengen nerusin pesta, akhirnya kita pindah lokasi: flatku! Tapi ngga semua ikutan pindah, cuman Pasha Bunin, Ira, Lena, Marina, dan kedua Yuri. Di flat, Roy pun pamer gadget, dia nyetel iTouch nya pake portable speaker, dan kamar kita berubah jadi lantai dansa. Karena kebetulan yang muter lagu agak mellow, jadi kita pada dansa waltz. Meskipun aku suka banget itu waltz, tapi aku ngga pernah melakukannya sama orang yg bener ‘bisa’ dansa, dan Pasha—pasanganku, sepertinya orang itu, udah gitu ya namanya juga Pasha, dansanya klasik banget ala kerajaan hhahah..

Musik pun berubah jadi musik nge-beat yang ngga cocok buat waltz. Si Yuri narik aku dan kita bener2 nge-dance asli kaya di klub. Pasha jadi sama Lena, Roy ama Marina, dan Andin ama Ira—ini yg bikin ngakak, si mbak tinggi banget, kepala si Andin cuman nyampe ujung hidung si mbak.

Cape ngedance, kita istirahat duduk sambil ngobrol2. Tiba2 bel pintu bunyi. Ternyata ada temen2nya Marina mau ikutan gabung. Tapi—oh God, mereka udah pada mabuk gitu, masuk ke kamar, nyiumin semua cewe2, ketawa2 sambil ngga focus matanya. Eh, ngga lama ada bel bunyi lagi. Kata Ira, itu pasti tetangga yg protes soalnya kita udah ngelewatin jam rame. Seketika Pasha langsung bête dan ngomong-apaan-gitu-ngga-tau-ah pake bahasa rusia ke si mas2 mabuk.

Lima belas menit kemudian, semuanya pada pulang, termasuk para mabuk2. Kecuali Pasha, dia mau nginep sama kita.

***

Besoknya, hari minggu, tanggal 14 Februari, adalah hari hari valentine (ya jelas) dan juga ternyata AIESEC punya gawe namanya Global Village, yaitu event pagelaran kebudayaan dari macem2 negara, partisipannya para pelajar asing yg belajar di Lugansk, dan—kami yg dari Indonesia.

Begitu masuk gedung tempat acaranya, suasana udah ngga kaya di Eropa. Orang-orang afrika di sudut sini, orang-orang Arab di sudut lain, orang-orang Asia timur ngumpul di tengah. Ngga lama, acara pun dimulai. Peserta2 dari Afrika dan Arab mayoritas pada nampilin kombinasi tarian dan nyanyian yg tampaknya hanya dinikmati kalangan mereka sendiri. Khusus dari india, special single dancer, wah seru abis. Dari china, nampilin pembacaan puisi, dan dari Nepal presentasi pake powerpoint.

Tiba giliran Indonesia. Aku berencana buat nyanyiin lagu Alusiau, dan plus-nya juga sudah ada. Tapi begonya, gara2 kemaren keasyikan pesta, AKU NGGA SEMPAT LATIHAN. Udah ah modal nekat aja, toh ngga ada Simon Cowell ama Randy Jackson disini. Selama aku nyanyi, I noticed, orang2 ngga ada yg ikut tepuk2 kaya pas orang afrika itu nyanyi. Bikin aku mulai ngga konsen nyanyinya. Aduh mana ada nada tinggi ngga nyampe pake suara asli lagi, akhirnya pake falset, eergh ngga latiaaaan siiih x(. Tapi syukurlah, begitu aku selesai nyanyi, gedung seakan bergemuruh mau rubuh (ah lebay). Semua penonton tepuk tangan meriah bgt.

Alusiau is in the house


Acara ditutup dengan sebuah lagu yg dinyanyiin Karina, (aku lupa apa judulnya) dan semua AIESECers berangkulan di atas panggung. Seharusnya, maksudku SEHARUSNYA, setelahitu acara benar2 selesai. Tapi para pejantan2 dari Arab (Iraq, Turki, Azerbaijan, Afghanistan) itu sekali lagi naek ke panggung dan menari2. Beberapa minta foto bareng aku atau Karina, tapi abis itu lanjut nari2 lagi.
with Ali, guy from Iraq


Yeah, while there are so many cultures at once, in one embrace, no matter from where… it IS, world without borders… :)